Jumat, 24 Agustus 2012

Setia & Satria




Pada masa Negara Berperang, China terbagi dalam 6 negara, Negara Chin menyerang negara Wei, Raja negara Wei terbunuh, semua pendukung Raja Wei dibunuh, hanya tersisa seorang putra dari Raja Wei yang berhasil melarikan diri. Karena tentara tak berhasil menemukannya, maka Raja Chin segera mengumumkan kepada seluruh rakyat Wei , “Bagi yang menemukan Putra Ra
ja Wei, maka akan dihadiahkan 1000 keping emas, jika ada yang menyembunyikan Putra Mahkota dan tidak melaporkan, maka akan dihukum mati, bahkan 10 macam kerabatnya juga akan dibabat habis.”Pada saat diserang, Ibu Pengasuh dari Putra Mahkota berhasil membawa Putra Mahkota melarikan diri. Ada orang yang berkata kepadanya, “Kamu seharusnya tahu dimana persembunyian Putra Mahkota. Sekarang hadiah dari Raja Chin amat banyak, kamu katakan saja keberadaan Putra Mahkota.Ibu Pengasuh dengan marah menjawab, “Saya mana tahu keberadaan Putra Mahkota, jikalau tahu pun, saya tidak akan mengatakannya. Mati ya mati, saya takut apa? saya bertanggung jawab memelihara seorang anak, menyembunyikannya supaya dia bisa hidup, malah memberitahukan keberadaannya, ini disebut telah berdosa kepada atasan, hanya karena tamak dan takut mati, saya dengar seorang yang setia tidak akan berkhianat kepada atasannya, juga tidak takut mati, tugas dan tanggung jawab saya memelihara seorang anak adalah supaya dia bisa tumbuh besar, bukan supaya dia mati. Tidak boleh karena hari ini saya ingin harta kekayaan, melepaskan sifat satria dan setia saya. Berkhianat kepada Raja. Saya pasti tidak karena sayang nyawa sendiri, lalu membawa kematian kepada Putra Mahkota.” Satu ucapan ini membuat semua orang-orang yang mendengarnya amat tergugah.Lalu Ibu Pengasuh selalu membawa Putra Mahkota bersembunyi dimana-mana, sampai lari pada suatu daerah bernama Hu Pien, akhirnya berhasil ditemukan oleh tentara Chin. Para Tentara dengan Pedang membunuhnya. Sewaktu tentara mau menusukkan pedangnya, Ibu pengasuh itu dengan penuh keberanian dan sifat satria, setianya pada Putra Mahkota, dengan badannya melindungi Putra Mahkota, sampai ditusuk 12 x, tidak ada satu tusukan pun yang masuk kearah Putra Mahkota.Walaupun Raja Chin amat ganas, namun melihat Ibu Pengasuh Putra Mahkota yang sifat Satria & Setianya begitu baik, pengorbanan yang penuh menggugah hati, bukan saja 100% hormat kepadanya, juga melaksanakan upacara pemakaman yang penuh penghormatan kepadanya, juga mengangkat abang dari Ibu Pengasuh tersebut sebagai pejabat negara sebagai balasan atas kesalahannya terhadap Ibu Pengasuh yang Setia tersebut. Makanya coba kita pikirkan, seorang yang tidak berpendidikan, memiliki sifat satria dan setia yang begitu tinggi, makanya, bagi kita yang belajar Buku Para Suci, mana boleh tidak bisa dibandingkan dengan seorang Ibu Pengasuh.

Setia & Satria Dilakukan Dengan Baik 

Su U mendapat titah kaisar Han sebagai Duta di negara Barbar. Sesampainya dia disana, kepala suku Barbar memintanya untuk menyerah kepada negara Barbar. Pada saat itu Su U tidak setuju, bahkan mengeluarkan pedangnya dan bunuh diri. Dia tidak mati, dan ketika terbangun, dia melihat dirinya telah masuk kedalam sebuah penjara yang amat gelap dan dingin. Makanan sehari-harinya adalah es yang ada di dalam penjara dan hiasan bulu dari pedangnya. Setelah melewati puluhan hari, masih tidak mati. Para Barbar merasa amat heran lalu melepaskan dan meminta Su U ke daerah Bei Hai yang tidak berpenghuni dan memintanya untuk mengembalai kambing. Dia harus menunggu hingga kambing yang dipeliharanya keluar susu baru boleh pulang kembali ke negaranya. Namun kambing yang dipilih adalah kambing jantan, mana mungkin akan keluar susunya. Sesampainya dia di Bei Hai juga tidak melihat ada orang yang mengantarkan makanan untuknya. Karena itu dia terpaksa mengolah rumput-rumputan untuk di makan. Tangannya selalu memegang titah kaisar Han. Di tempat yang amat dingin, bersalju dan angin kencang, dengan berani dan tak ingin menyerah. Melewati masa 6 tahun.Suatu ketika berjumpa dengan saudara kepala suku Barbar yang sedang berburu melewati daerah tersebut. Saudara kepala suku itu melihat Su U demikian hebat dan amat menghormatinya. Dia menyerahkan makanan dan pakaian padanya.
Akhirnya, Dinasti Han berganti penguasa, yakni kaisar Han Cau Ti. Negara Barbar dan negara Han bersahabat, Kaisar yang telah mendengar kisah Su U, mengambil kesempatan ini untuk memarahi kepala suku Barbar. Kepala suku segera menyerahkan Su U pada negara Han. Saat itu Su U telah ditahan selama 20 tahun. Kaisar mengangkatnya kembali menjadi pejabat tinggi dan memberikan harta yang berlimpah. Namun Su U tidak mau menerimanya dan menyerahkan semua hartanya pada adiknya, keluarganya, temannya. Sama sekali tidak mau menerimanya. Beliau hidup sampai usia 80 tahun.
Melihat Su U yang di penjarakan, di asingkan di daerah Bei Hai yang dingin bersalju, tidak ada makanan dan pakaian, namun hatinya tetap terpelihara jiwa satria yang amat besar, sungguh kesulitan yang dihadapinya sedikitpun tidak menggoyahkan hatinya. Sifat satria ini tiada duanya.


  
CU TI Yang Setia Pada Negara

Dulu dimasa dinasti Cing, ada seorang yang bernama Cu Ti. Beliau adalah orang Fan Yang (Propinsi He Bei, Kota Ting Sing). Sangat setia, satria dan pemberani. Karena masih muda dan berbakat, sehingga diangkat sebagai pejabat negara. Pada tengah malam, ayam jantan menjerit membangunkannya, dia selalu berkata, “Ini bukanlah hal yang buruk.” Setelah bangun, maka dia segera berlatih pedang. Sehingga jurus pedangnya dilatih menjadi amat baik. Sejak itu, asalkan mendengarkan jeritan ayam, dia segera bangun dan berlatih pedang. Tujuannya agar dapat digunakan untuk membela negara. Pada masa Kaisar Yen Ti, Cu Ti memohon untuk membawa tentara ke utara merebut kembali tanah yang telah direbut bangsa asing. Kaisar Yen Ti mengangkatnya menjadi Panglima Perang. Setiap kali membawa tentara melewati perbatasan, pasti dia akan membawa alat dayung dan memukuli air sungai tersebut dan berkata, “Saya Cu Ti, jikalau tidak berhasil menghalau musuh, merebut kembali tanah kita, maka saya akan seperti air ini, pergi dan tak akan kembali lagi. Para tentara mendengar semangatnya amat tergugah, semuanya berjuang mati-matian. Akhirnya berhasil mengalahkan para musuh, dan berhasil merebut kembali tanah yang telah diambil musuh.








Jumat, 17 Agustus 2012

CHO CHU memusnahkan tiga malapetaka atau bencana

周處除三害
 
西晉時期義興(今江蘇宜興縣)有個人叫周處,他長得個子高,力氣


比一般小夥子大。由於父親早死,他自小沒人管束,成天在外面遊蕩

,不肯讀書﹔而且脾氣強悍,動不動就拔拳打人,甚至動刀使槍,義

興地方的百姓都害怕他。
義興鄰近的南山有一隻白額猛虎,經常出來傷害百姓和家畜,當地的

獵戶也制服不了它。
當地的長橋下,有一條大蛟(一種鱷魚),出沒無常。義興人把周處

和南山白額虎、長橋大蛟聯繫起來,稱為義興“三害”。這“三害”

之中,最使百姓感到頭痛的還是周處。

有一次,周處在外面走,看見人們都悶悶不樂。他找了一個老年人問

:“今年農作物收成挺不錯,為什麽大夥那樣愁眉苦臉呢?”
老人沒好氣地回答:“三害還沒有除掉,怎樣高興得起來!”
周處第一次聽到“三害”這個名稱,就問:“你指的是什麽三害。”
老人說:
“南山的白額虎,長橋的蛟,加上你,不就是三害嗎?”
周處吃了一驚。他想,原來鄉間百姓都把他當作虎、蛟一般的大害了
。他沈吟了一會,說:“這樣吧,既然大家都為‘三害’苦惱,我把

它們除掉。”
過了一天,周處果然帶著弓箭,背著利劍,進山找虎去了。到了密林

深處,只聽見一陣虎嘯,從遠處竄出了一隻白額猛虎。周處閃在一邊

,躲在大樹背面,拈弓搭箭,“嗖”的一下,射中猛虎前額,結果了

它的性命。
周處下山告訴村裏的人,有幾個獵戶上山把死虎扛下山來。大家都挺

高興地向周處祝賀,周處說:“別忙,還有長橋的蛟呢。”
又過了一天,周處換了緊身衣,帶了弓箭刀劍跳進水裏去找蛟去了。

那條蛟隱藏在水深處,發現有人下水,想跳上來咬。周處早就准備好

了,在蛟身上猛刺一刀。那蛟受了重傷,就往江的下游逃竄。
周處一見蛟沒有死,緊緊在後面釘住,蛟往上浮,他就往水面遊﹔蛟

往下沈,他就往水底鑽。這樣一會兒沈,一會兒浮,一直追蹤到幾十

裏以外。
三天三夜過去了,周處還沒有回來。大家議論紛紛,認為這下子周處

和蛟一定兩敗俱傷,都死在河底裏了。本來,大家以為周處能殺死猛

虎、大蛟,已經不錯了﹔這回“三害”都死,大家喜出望外。街頭巷

尾,一提起這件事,都是喜氣洋洋,互相慶賀。
沒想到到了第四天,周處竟安然無恙地回家來了。人們大為驚奇。原

來大蛟受傷以後,被周處一路追擊,最後流血過多,動彈不得,終於

被周處殺死。
周處回到家裏,知道他離家三天後,人們以為他死去,都十分高興。

這件事使他認識到:自己平時的行為被人們痛恨到什麽程度了。他痛

下決心,離開家鄉到吳郡找老師學習。那時候吳郡有兩個很有名望的

人,一個叫陸機,一個叫陸雲。周處去找他們,陸機出門去了,只有

陸雲在家。

周處見到陸雲,把自己決心改過的想法誠懇地向陸雲談了。他說:“

我後悔自己覺悟得太晚,把寶貴的時間白白浪費掉。現在想幹一番事

業,只怕太晚了。”
陸雲勉勵他說:“別灰心,您有這樣決心,前途還大有希望呢。一個

人只怕沒有堅定的志氣,不怕沒有出息。”
打那以後,周處一面跟陸機、陸雲學習,刻苦讀書﹔一面注意自己的

品德修養。他的勤奮好學的精神受到大家的稱贊。之後他成為一位正

直、肯幹實事的好官員。

Pada zaman dinasti Ik Chin pada propinsi Ciang Su, kecamatan Yi Sing ada seorang yang bernama Cho Chu, dia sangat tinggi sekali. Tenaganya sangat kuat sekali. Lantaran ayahnya mati muda, dia semenjak kecil tak ada yang mendidiknya, setiap hari hanya berkeluyuran di luar rumah saja, tidak sudi sekolah, malahan sangat emosional sekali, suka sekali memukuli orang lain, malahan sampai – sampai menggunakan pedang maupun golok. Rakyat di sekitar Yi Sing sangat takut padanya.
Gunung selatan yang berada di sekitar Yi Sing ada terdapat seekor harimau yang sangat buas, sering keluar melukai penduduk dan ternak mereka, pemburu di sana juga tak berkutik terhadapnya.
Di bawah jembatan disekitar sana ada terdapat seekor binatang (sejenis buaya) keluar masuk tak menentu. Orang – orang di Si Ying menggabungkan Cho Chu, harimau kepala putih serta buaya menyebutnya menjadi 3 bencana Yi Sing. Di antara tiga bencana ini yang paling membuat pusing kepala penduduk adalah Cho Chu.

Pada suatu kali, Cho Chu berjalan – jalan di luar rumah, melihat setiap orang selalu bermuram durja, dia bertanya pada seorang kakek : “Tahun ini hasil panen begitu lumayan, kenapa semua orang masih saja bermuram durja ?”
Kakek ini menjawab dengan suara Lirih : “Tiga bencana masih belum diberantas, bagaimana bisa senang !”. Cho Chu baru pertama kali mendengarkan akan istilah “Tiga Bencana”, lalu bertanya “Siapa yang kamu maksudkan dengan Tiga Bencana ?”
Kakek menjawab : “Harimau berkepala putih yang hidup di Nan San (Gunung Selatan), Buaya di jembatan panjang, ditambah dengan kamu, bukankah merupakan Tiga Bencana ?”
Cho Chu tersentak kaget, dia berpikir rupanya penduduk sekitar sana menganggap dia seperti harimau dan buaya yang berbahaya. Dia terdiam sejenak dan berkata “Begini saja, kalaulah semua orang menganggap Tiga Bencana begitu bahaya dan menyusahkan mereka, saya akan memberantaskannya.
Setelah lewat satu hari, Cho Chu benar telah membawa panah dan busur, serta pedang tajam, masuk ke gunung mencari harimau, setelah sampai ke hutan rimba, hanya mendengar auman harimau, dari jauh keluar seekor harimau buas yang berkepala putih. Cho Chu berkelik ke samping, bersembunyi di belakang pohon, mengarahkan panah menembak ke arah kening harimau, akhirnya harimau tersebut terbunuh olehnya.
Cho Chu turun gunung memberitahukan pada orang kampung, ada beberapa pemburu mengangkat mayat harimau turun dari gunung. Semua orang begitu gembira dan mengucapkan selamat kepada Cho Chu, Cho chu berkata “Jangan sibuk dulu, masih ada buaya yang ada di jembatan panjang”
Setelah lewat satu hari, Cho Chu mengenakan sebuah baju yang ketat, membawa panah, busur dan pedang, kemudian masuk ke dalam air mencari buaya. Buaya tersebut bersembunyi di dalam air yang dalam, melihat ada orang turun ke dalam air, berpikir hendak mengigitnya. Cho Chu sudah bersiap sedia, menusuk pisau ke badan buaya tersebut, buaya tersebut terluka berat, lalu bersembunyi ke dasar sungai.
Cho Chu melihat buaya belum mati, bergegas mengejar dari belakang, buaya tersebut berenang ke atas, dia ikut mengejarnya ke atas, buaya tersebut turun ke dasar sungai, dia juga ikut ke bawah. Sebentar ke dasar, sebentar terapung, sampai mengejar sejauh 10 km lebih.
Setelah lewat selama 3 hari 3 malam, Cho Chu masih juga belum pulang, semua orang berdiskusi, beranggapan kali ini Cho chu pasti mati bersama dengan buaya tersebut. Pada mulanya semua orang beranggapan asalkan Cho Chu bisa membunuh harimau dan buaya saja sudah lumayan, kali ini tiga bencana telah mati semuanya, semua orang dengan gembira keluar dari rumah. Sepanjang jalan semua orang membahas masalah tersebut, semuanya menunjukkan perasaan yang sangat senang sekali, saling memberikan ucapan selamat.
Tak disangka pada hari ke empat, Cho Chu dengan selamat pulang ke rumahnya, semua orang begitu kaget sekali. Rupanya setelah buaya tersebut terluka, dan dikejar terus oleh Cho Chu sampai akhirnya mengalirkan begitu banyak darah jadi tak bisa bergerak dan dibunuh oleh Cho Chu.
Cho Chu pulang kembali ke rumahnya, tahu setelah dia meninggalkan rumah selama 3 hari, semua orang beranggapan dia telah mati, dan sangat bergembira sekali. Kejadian itu membuat dia merasakan : “Kelakukan diri sendiri telah begitu di benci oleh semua orang. Dia bertekad untuk berkelana ke kota untuk belajar dengan Guru, pada saat itu di kota ada terdapat dua orang Guru yang sangat terkenal sekali, satu disebut dengan Lu Chi, satu lagi adalah Lu Yin. Cho Chu pergi mencari mereka, Lu Chi tak ada di rumahnya, hanya ada Lu Yin yang berada di rumahnya.
Cho Chu bertemu dengan Lu Yin, mengutarakan kebulatan tekadnya untuk berubah kepada Lu Yin, dia berkata “Saya menyesal terlalu lambat bertobat, yang telah menyia – nyiakan waktu yang begitu berharga sekali, sekarang hendak melakukan sebuah pekerjaan besar, ditakutkan akan sangat terlambat sekali.”
Lu Yin memberikan semangat kepadanya “Jangan putus asa, kamu mempunyai tekad, masa depan masih besar harapannya. Seseorang hanyalah ditakutkan tanpa adanya tekad yang kokoh dan gigih, tidak tahu tanpa berguna sama sekali”.
Semenjak dari itu, Cho Chu disamping mengikuti Lu Yin dan Lu Chi dalam belajar, berjerih payah belajar, disamping itu selalu memperhatikan kepribadian dan pembinaan dari diri sendiri. Semangat dan kerajinan dia yang selalu gigih belajar membuat semua orang memujinya, kemudian dia menjadi seorang yang berkepribadian yang lurus, menjadi seorang pejabat yang mahir dan trampil.


MORALITAS

 
TAHU MALU
﹝八德之八﹞
DELAPAN MORAL KEBAJIKAN KE – 8

一、意涵:
MAKNANYA
恥者,即自省身心過失,而生愧悔改善之心。
Tahu malu, setelah tersadarkan akan kesalahannya, timbul hati penyesalan dan bermaksud untuk merubahnya.

1. 恥之認知:
PEMAHAMAN TENTANG TAHU MALU
羞惡之心,人皆有之,既有此天良美德,無恥即是無良。是故孟子云
:「恥之於人大矣。」孔老夫子評論讀書人亦說:「行己有恥」。一

個人不廉潔而到了悖禮犯義的,其皆根於無恥也。
Malu terhadap hati yang buruk, semua orang ada memilikinya, itu merupakan moral indah yang merupakan karunia dari Langit, tanpa tahu malu berarti tanpa adanya Liang Sin.

2. 恥之實踐:
PENGAMALAN DARI TAHU MALU
子貢云:「君子之過,如日月之蝕焉。過也,人皆見之;更也,人皆

仰之。」足見做人需時時警惕自己,如有過失,如日月之蝕,無法隱
藏;過而能改,依然光明磊落,光輝不減。是故知恥,是改過遷善的起步;雪恥,是成聖成賢的開端。所以光知恥是不夠的,更要進一步「雪恥」,那麼這個恥辱才會永遠離開我們,不再受它的干擾,如同照了鏡子,發現自己臉上有污垢,得趕緊拿了毛巾擦洗乾淨,才能回復清潔乾爽的面貌一樣。
Ce Kung berkata : “Kesalahan dari seorang budiman bagaikan gerhana bulan dan matahari, kesalahannya orang bisa melihatnya, dan bila diubah, orang akan memujinya”.
Bisa terlihat jelas menjadi manusia perlu setiap saat selalu waspada terhadap diri sendiri, kalaulah ada kesalahan, seperti gerhana matahari dan bulan, tak sanggup untuk menutupinya.
Bersalah dapat merubahnya, membuat diri sendiri menjadi terang menderang. Makanya tahu malu, merupakan langkah pertama untuk merubah diri menuju kebajikan, merupakan awal dari menjadi dewa. Makanya hanya tahu malu saja tidaklah cukup, semakin harus mencuci malu, dengan demikian hinaan akan selamanya menjauhi kita, tidak lagi tergoda, bagaikan seperti sebuah cermin, tahu wajah kita ada noda, haruslah cepat – cepat mengambil handuk untuk membersihkannya, barulah bisa pulih dari wajah yang seperti semula.


KEJUJURAN / KEBERSIHAN JIWA
﹝八德之七﹞
DELAPAN MORAL KEBAJIKAN KE - 7
一、意涵:
ARTI / MAKNANYA
廉字有二義,售物價錢便宜曰廉價;心無貪求,非義不取曰廉潔。
Ada dua arti :
Arti yang pertama adalah membeli barang dengan harga yang murah.
Arti yang kedua adalah hati tanpa tamak untuk mengejarnya, yang tidak sesuai dengan loyalitas tidak boleh diambil itulah yang disebut dengan kebersihan jiwa.

1. 廉之認知:
PEMAHAMAN TERHADAP KEJUJURAN / KEBERSIHAN JIWA
「廉」之意義,實在通於「智」,不智的人不能廉,不廉的人其實就
是不智。因為凡是真正聰明具有大智大慧的人,一定能夠將是非善惡

、公私義利界限分得清,將最後的榮辱得失看得明,因此能做到「公
正廉明」、「臨財不苟」,得失取予,一切都合乎禮,就是能夠「廉」。所以「廉」即是清清白白的辨別。惟有見理不徹,目光短淺的蠢人,是非義利既分不清,自己真正的最後的禍福尤其看不透,所以「利令智昏」,「見利忘義」,貪婪放縱,無所不為,弄得廉恥道喪、身敗名裂,這種人一方面固然可鄙,其實最為不智。
“Lien / Kejujuran” berarti, sungguh berhubungan erat dengan kearifan, orang yang tidak berkearifan tidak dapat bisa mencapai kejujuran / kebersihan jiwa, orang yang tidak mempunyai Kejujuran / Kebersihan jiwa adalah orang yang tidak berkearifan.
Karena itu, yang benar – benar merupakan orang pintar adalah orang yang berkearifan besar, yang dapat membedakan dengan jelas akan yang benar dengan yang salah, yang baik dengan yang buruk, yang umum dengan pribadi, yang berloyalitas dengan yang menguntungkan, yang berupa kebanggaan dengan kehinaan, mendapatkan dan kehilangan dengan sejelas – jelasnya.
Oleh sebab itu, bila dapat mencapai tahap “melaksanakan / melakukan secara seadil – adilnya dan sejujur – jujurnya”, “harta yang haram tak berani untuk diambil”, “mendapatkan secara sesuai aturan”, maka berarti telah memenuhi budi Kejujuran / Kebersihan jiwa. Makanya Kejujuran itu adalah membedakan sampai sejelas – jelasnya, hanya orang yang tahu Li / Aturan Kebenaran baru bisa melaksanakannya.
Berpandangan sempit adalah merupakan orang yang bodoh, benar – salah, loyal dan keuntungan tak dibedakan dengan jelas, tak memandang lebih lapang akan bencana dan rezeki yang didapati oleh diri sendiri, sehingga akhirnya mengambil keuntungan yang tidak sesuai dengan aturan, itu adalah orang yang tidak berkearifan. Melihat keuntungan lalu melupakan loyalitas, tamak, perbuatan apapun juga ada dilakukan, membuat sampai moralnya menjadi buruk sekali, membuat diri dan namanya jadi rusak, orang yang demikian disamping sangat dipandang rendah sekali oleh orang lain, padahal sesungguhnya merupakan orang yang paling tidak mempunyai kearifan.
 
2. 廉之實踐:
PENGAMALAN DAN PENERAPAN DARI LIEN / KEJUJURAN
廉為崇儉之本,儉足以養廉也,是故君子尚儉。孔子云:「放於利而
行,多怨。」,孟子曰:「養心莫善於寡欲。」先人聖言皆在在告誡

我們:養儉修德,剛則不屈於欲,如此才是「富貴不能淫,貧賤不能
移,威武不能屈」的勇者。
LIEN sebagai pokok (dasar) dari berhemat, berhemat bisa memupuk Lien, makanya seorang budiman hendaknya berhemat.
Konfusius bersabda “Melaksanakan dengan penuh keuntungan akan sangat banyak keluhannya”.
Perkataan para orang suci adalah lagi memberikan peringatan kepada kita semuanya, memupuk kebiasaan berhemat, membina moral, barulah tidak akan tunduk pada nafsu dan kehendak, dengan demikian barulah “Kaya”. Tidak boleh larut dalam nafsu birahi, miskin tidak boleh berubah pendiriannya, dan tak tunduk pada kekuasaan barulah merupakan seorang pemberani.

Nara sumber; Hua sin Thang

WANG CHENG menolong Orang lain dari kesusahan/keadaan yang sulit

濟急救人的王曾

宋朝時,有一位名叫王曾的人上京趕考,在路途中借住在一人家裏,


忽然聽到隔壁鄰家母女倆人哭得很傷心,便詢問借住的人家,才知道

因為鄰家家貧而欠了人家的錢,又沒有錢可以還人家,所以必須要把

女兒賣掉來還債。王曾聽了之後,就到鄰居家去求證,事情真的是這

樣,王曾就說:「妳的女兒我買了,我先將錢付給妳們,你們先把債

給還清;三天後我就來娶妳的女兒。」母女接到錢就不再擔心,也不

哭了。可是三天很快就到了,而且過了一天了﹝第四天﹞,還是沒有
看到王曾來到,母女一連等到第五天,才有一個人拿了一封王曾寫的信交給她們,上面的意思是說:這個錢是要幫忙她們的,怕她們不肯收,所以才說是娶妻的訂金,請她們放心,女兒也可以另找對象嫁人。後來王僧連中三科得到第一,最後還被封為「沂國公」。


Pada dinasti Sung, ada seorang budiman Wang Cheng hendak ke kota mengikuti ujian, di dalam perjalanan menumpang tinggal di rumah orang, tiba – tiba terdengar tetangga sebelah, ibu dan anak gadis menangis dengan sangat sedih sekali, lalu bertanya pada pemilik rumah tempat dia menginap, barulah tahu karena tetangga sebelah sangat miskin dan meminjam uang dari orang lain, lalu tak ada uang untuk mengembalikannya, makanya harus menjual anak gadisnya untuk membayar hutang. Setelah Wan Cheng mengetahuinya, lalu pergi ke sebelah untuk membuktikannya, persoalannya nyata – nyata seperti yang diceritakan. Wan Cheng berkata “Anak gadis kamu saya yang beli, saya duluan mengasih kalian uang, kalian duluan melunasi hutang, 3 hari kemudian saya datang menikahi anak gadis kamu”. Ibu dan anak mendapatkan uang tersebut jadi tak seberapa khawatir lagi, juga tak menangis lagi. Tetapi 3 hari sangatlah cepat sampai, malahan sudah lewat 1 hari (sudah berselang 4 hari), masih juga tak tampak datangnya Wang Cheng, ibu dan anak menunggu sampai hari ke lima, barulah ada seorang membawa surat dari Wang Cheng untuk menyerahkan pada mereka, isi suratnya adalah demikian “Uang itu adalah untuk membantu mereka, takut mereka tidak mau menerimanya, makanya barulah bilang sebagai mas kawin, harap mereka tenangkan hati, anak gadis juga boleh menikah dengan orang lain. Kemudian Wang Cheng berturut – turut mendapatkan juara pertama atas 3 pelajaran yang diuji, terakhir masih dinobatkan sebagai Chin Kuo Kung.

SHU CHANG menjalani peraturan tanpa mementingkan diri sendiri

執法無私的蘇章

蘇章,字孺文,扶風郡平陵縣﹝今陝西省成陽縣﹞人,後漢順帝時,


為冀州刺史。當時他有一位老友正好做清河郡的太守,蘇章到各處稽

察時,發覺清河太守貪污,就下帖宴請清河太守,並設下豐富的酒肴

,談敘兩人舊情,非常開心。太守歡喜說:「人都只有一個天,我獨

獨有二個天﹝意指蘇章能幫他隱瞞﹞!」蘇章說:「今天與老朋友暢

飲是私情,他日我冀州刺史辦案則是公事須依國法!」不久,他馬上
糾舉清河太守的罪狀,從此州境肅然,無人敢輕易犯法。
在人情天理上,我們必須要明白並分辨清楚,切莫為因循人情而傷害

到天理,須知上天是一向無私情的啊!

Shu Chang, alias Ju Wen, orang dari propinsi Shia Si, kecamatan Chen Yang. Pada zaman Ho
Han Kaisar Sun Ti, sebagai pelaksana hukum di kota Chi Co. Pada saat itu dia ada mempunyai seorang teman lama yang kebetulan menjadi bupati di kota Ching He, Shu Chang sewaktu memeriksa ke kota, mengetahui bahwa bupati Ching He korupsi, lalu mengundang bupati Ching He, dan menyediakan makanan yang lezat, bercerita tentang nostalgia mereka, sangat gembira sekali. Bupati dengan gembira berkata “Manusia hanya ada satu Langit, hanya saya yang ada dua Langit” (Maksudnya menyatakan Shu Chang bisa membantu dia menutupi perbuatannya). Shu Chang berkata “Hari ini bersama dengan teman lama bercerita adalah urusan pribadi, kelak di kemudian hari saya sebagai petugas penegak hukum menjalankan tugas, hendaklah mematuhi peraturan negara !” Tak lama, dia segera menjatuhkan hukuman bagi bupati Ching He, mulai saat itu juga, tak ada orang yang berani seenaknya melanggar hukum.
Di dalam perasaan antar manusia, hakekat kebenaran dari Langit, kita hendaklah membedakannya dengan sejelas – jelasnya, jangan dikarenakan lantaran perasaan antar sesama malahan merusak akan Hakekat Kebenaran Langit, hendaklah diketahui Langit selalu tanpa egois dan tanpa memandang perasaan.

sumber; Hua sin thang

KOU CI PO mengabaikan akan keselamatan dirinya & menitik beratkan pada LOYALITASI

輕死重義的苟巨伯

漢朝時,有一位名叫苟巨伯的人,他對待朋友很重情義。有一次他的


朋友生病了。他不遠千里而來探望他的朋友。當時盜賊蜂起,有一幫

的賊兵前來攻城,城被攻破了,人民也紛紛逃竄。朋友家裏的人也各

自逃命去了,只有苟巨伯獨自一個人留下來陪著朋友。一會兒盜賊進

來看到苟巨伯,便喝聲問道:「嘿!滿城的人都紛紛走避,你是什麼

人,膽敢留在這裏:」苟巨伯不慌不忙的說:「我是遠來探望朋友的
病,你看他病得這麼嚴重,我怎麼忍心棄他於不顧而自己逃跑呢!」賊兵聽了他的話,再看他如此真誠的對待朋友,不由得被他感動,大家互相瞧著說,「這個漢子真有道義,我們不可傷害他!」臨走的時候賊兵還對苟巨伯說:「你好好的在這裏看護病人,我們隨時都會保護你!」
朋友相
交最重信義,須要以至誠的心來相待,至死都不可互相辜負,切不可
有一絲的虛偽;苟巨伯的不肯離去,並不是存著僥倖的心,他是出自

一片的至誠,才能感格上天、感化眾人。
 
Pada dinasti Han, ada seorang yang bernama Kou Ci Po, dia terhadap kawan sangat loyalitas. Ada suatu kali kawan dia sakit, dia dari jauh datang menjenguk kawannya. Pada saat itu sangat banyak perampok, ada segerombolan pasukan perampok datang menyerang kota, kota terduduki oleh mereka, rakyat pada mengungsi. Keluarga kawannya juga masing – masing melarikan diri, hanya Kou Ci Po sendirian yang menemani temannya. Kemudian perampok masuk rumah dan melihat akan Kou Ci Po, lalu membentak “Hei ! Segenap penduduk kota pergi semuanya, kamu adalah siapa, masih berani tetap berada di sini ?” Kou Ci Po tanpa gentar berkata “Saya datang dari jauh untuk menjenguk kawan yang sakit, kamu lihat penyakit dia sedemikian parah, saya mana tega untuk mencampakkan dia dan diri sendiri melarikan diri !” Setelah pasukan perampok mendengarkannya, lalu melihat dia sedemikian tulus terhadap kawannya, tak terasa jadi tergugah, semuanya saling bertatapan dan berkata “Pria ini sungguh begitu loyal, kita jangan menyakiti dia !” Sebelum pergi perampok tersebut masih berkata pada Kou Ci Po “Kamu baik – baiklah di sini menjaga si sakit, kami setiap saat akan melindungi kamu.”
Pergaulan antara teman paling penting akan kepercayaan dan loyalitas, memerlukan hati yang penuh dengan kesungguhan dalam menghadapinya, sampai mati pun tak akan saling menyia – nyiakan, sekali – kali janganlah berpura – pura, Kou Ci Po tak tega meninggalkannya, bukan sekedar mengandung hati yang kebetulan saja, dia benar – benar bersungguh – sungguh, barulah dapat mengharukan Langit dan Bumi.


IBU TIEN dengan LOYALITAS dalam mendidik Anaknya

以義教子的田母

戰國時代齊國宰相田稷子也有一位廉能的母親。田稷子當時是齊宣王


的宰相,他收了屬下所送的黃金百鎰,拿去送給母親。他的母親覺得

很奇怪,問道:「你當了三年的宰相,俸祿從來沒這麼多,你從哪兒

得來這些錢呢?」田稄子據實以告,田母即曉以大義,指責他道:「

士人應修身潔行,不為苟得,不行詐偽,非理之利不入於家。現在國

家給你厚祿,你應當盡力竭能,忠信不欺,沒想到你卻為人臣而不忠
,這些不義之財我不要,你這種不孝之人也不是我的兒子。」田稷子聽罷,非常羞慚,把金子拿去歸還,並向齊宣王請罪。宣王因他知過能改而赦免他的罪,也大賞田母之義氣。

Dari negara Chi, Thien Chi Tze mempunyai seorang ibu yang trampil dan jujur.
Thien Che Tze merupakan perdana menteri dari kaisar Chi Yi Wang, dia menerima uang emas yang dihadiahkan anak buahnya, dan membawanya untuk dihadiahkan pada ibunya, ibunya merasakan sangat aneh sekali, lalu bertanya “Kamu menjadi perdana menteri selama 3 tahun, gaji kamu tak pernah ada sebanyak ini, kamu dari mana mendapatkan uang yang sebanyak ini ?”
Thien Chi Tze berterus terang menerangkan, ibunya yang begitu memahami akan makna loyalitas, memarahinya, “Seorang terpelajar seharusnya membina bawahannya agar berkelakuan yang putih bersih, tidak boleh seenaknya, tidak boleh melakukan perbuatan yang membohongi, dan tidak meraih keuntungan yang tidak sesuai dengan aturan. Keuntungan yang tidak sesuai dengan aturan (Li) tidak boleh dibawa masuk ke rumah. Sekarang negara telah mengaji kamu, seharusnya kamu berupaya semaksimal mungkin, setia, dipercayai tanpa menipu, tak disangka sebagai pejabat pemerintahan kamu malahan tidak setia, harta yang tidak memenuhi loyalitas (diambil tanpa memenuhi aturan yang ada) saya tidak mau, kamu sebagai anak yang tidak berbakti, juga bukan merupakan anak saya”.
Thien Chi Tze setelah mendengarkannya sangat malu sekali, mengembalikan emas tersebut kepada pemiliknya, lalu meminta maaf kepada kaisar Chi Yi Wang, kaisar Chi Yi Wang lantaran tahu dia tahu salah dan dapat merubahnya lalu mengampuni kesalahannya, juga menghadiahkan pada ibunya yang demikian berloyalitas.
Sumber;; Hua sin Thang

LOYALITAS

義之認知:
PEMAHAMAN / PENGENALAN TERHADAP LOYALITAS
 

孟子云:「夫義,路也。唯君子能由是路。」故君子於困窮中不失節
義,不蔽於物,於發達時,亦不敢浪費奢華,或行違道敗德之事。孟
子認為義是人心之當然,道是天理之自然,集義也可說就是積善。無道義,即不能生浩然之正氣。若平時所為,事事循理而行,皆合於義,則集合此義,自能生浩然之正氣。
Kata Mengcius : “Loyal, merupakan sebuah jalan, yakni sebuah jalan yang mesti dilalui / dijalankan oleh seorang budiman / Kun Cu”
Makanya seorang budiman / Kun Cu, walaupun berada dalam kemiskinan tetap tak kehi-
langan loyalitasnya, tidak terikat pada benda tertentu, sewaktu dalam keadaan makmur, tidak berani menghambur – hamburkannya demi untuk kemewahan, atau melakukan perbuatan yang melanggar Tao dan merusak moral.
Mengcius beranggapan “Loyalitas” merupakan sebuah sifat yang mesti dimiliki oleh hati manusia. Tao adalah demikian alamiah dari Hakekat Kebenaran dari Langit, berloyalitas juga berarti lagi menimbun kebajikan. Tanpa adanya loyalitas tidak dapat berjiwa ksatria, atau berjiwa lurus tegak. Kalaulah dalam perbuatan sehari – hari , setiap hal selalu dilaksanakan melalui aturan main yang berlaku, sesuai dengan loyalitas, berkumpulnya loyalitas tersebut secara alamiah akan mempunyai hawa lurus yang sangat alamiah yakni bersifat ksatria.
義之實踐:
PENGAMALAN / PENERAPAN DARI LOYALITAS

齊王的兒子墊曾經問孟子說:「士要做些什麼事呢?」孟子回答:「
要使自己的志向高尚。」所謂的立志,並不只是決定自己要從事哪一
職業,而是不論將來作什麼,或得志、順利與否,都應懷抱一份對自己生命原則的理想與期許…他必須堅持仁義,這就是所謂的「尚志」
Anak dari Chi Wang yang bernama Tze Tien pernah bertanya pada Mengcius, “Orang yang terpelajar hendaklah melakukan hal apa ?”, Mengcius menjawabnya “Hendaklah membuat tekad diri sendiri jadi cita – cita yang agung”. Yang dimaksud dengan tekad / cita – cita, bukanlah hanya memastikan diri sendiri hendak terjun ke bidang yang manakah, melainkan tak peduli kelak melakukan pekerjaan apapun atau mendapatkan yang lancar atau tidak, semuanya mesti mengandung sebuah harapan dan prinsip yang ideal terhadap kehidupan dari diri sendiri, dia mesti bersikeras berpatok pada loyalitas, inilah yang disebut sebagai cita – cita yang agung.

Pria & Wanita dalam meneladani kesopanan dari LANGIT & BUMI

男女有別 天地禮法

從前有一位君子各叫林茂先,年輕時,家庭貧困,但卻十分有志氣,



經常閉門讀書。
他家的鄰居有一位很有錢的婦人,平日厭惡自己的丈夫不長進、不好


學,而卻十分愛慕林茂先的人品才學。有一天她夜晚私奔到林茂先的

家中,傾訴自己的愛意,誰知嚴正有德的林茂先不但沒有接受,反而
大聲的呵責她說:「自古以來,一向男女有別,妳這番舉動,不但於禮於法皆不容,並且天地鬼神無處不在,妳怎麼如此無禮污辱我心」說完,這位婦人自慚而退。次年林茂先考試中榜,從此一生榮華,奉獻朝廷。
可見,禮是人與人之間應守的禮貌、規矩,而且是不可踰越的規範。
Dahulu ada terdapat seorang budiman (Kun Cu) bernama Lin
Mau Sien, sewaktu masih muda, keluarganya sangat miskin sekali, tetapi malahan sangat bertekad tinggi, sering kali tanpa keluar dari rumahnya untuk membaca buku.
Tetangga dia ada terdapat seorang perempuan yang sangat kaya, biasanya sangat membenci suaminya yang tidak mau maju, tak mau belajar, malahan sangat mengagumi pengetahuan dari Lin Miau Sen. Pada suatu malam dia mengendap – ngendap datang ke rumah Lin Mau Sen menyatakan rasa sukanya, siapa yang tahu Liu Miau Sen yang bermoral tinggi bukan saja tak menerimanya, malahan dengan suara lantang memarahinya : “Dari duru sampai sekarang antara pria wanita ada perbedaannya, tindakan kamu ini, bukan saja tak sesuai dengan sopan santun, malahan Langit, Bumi, Dewa dan Hantu dimana – mana ada, kenapa kamu sedemikian tidak sopan telah menghina saya !” Habis berkata, perempuan ini malu sendiri dan pergi. Setahun kemudian Lin Mau Sien menjadi sarjana, semenjak itu hidup dengan penuh kemewahan, mengadikan dirinya pada kerajaan.
Dapat dilihat, kesopanan harus dijaga dalam hubungan antar manusia, malahan tidak boleh melampauinya.
Sumber; Hua sin Thang

Saling mengalah demi Negara, mengharukan Panglima.

相忍為國 感動天將

戰國賢臣蘭相如被封為上卿後,大將軍廉頗常常自視功高但位在相國



之下,心中常憤憤不平,因此便揚言要找機會羞辱蘭相如;而蘭相如


總是避著廉頗,有一次在大街上遠遠看到廉頗的車,反而躲起來讓廉

頗的車先過,有人就問蘭相如:「您為何如此?難道是怕將軍嗎?」
蘭相如說:「秦國之所以不敢侵略我國,實在是因為有我們兩人在,如果我們自己先爭鬥起來,兩虎相爭,必有一傷,這樣不是害了國家嗎?我之所以處處忍讓,都是為了國家啊!」廉頗聽到這番話以後,非常慚愧,就背著荊條,光著上體親自到蘭相如處請罪,二人坦誠相見,終於成為至交而共同保國衛民。
Pada saat Chan Kuo ada terdapat seorang pejabat budiman yang bernama Lan Siang Ju
, setelah menjabat sebagai Shang Cin, Panglima yang bernama Lien Po sering beranggapan jasanya sangat besar, tetapi kedudukannya masih di bawah perdana menteri, dalam hati sangat emosi, oleh sebab itu lalu mengatakan akan mencari kesempatan untuk mempermalukan Lau Siang Ju, tetapi Lau Siang Ju selalu menghindar dari Lien Po, ada suatu kali di jalanan bertemu dengan kereta Lien Po, malahan bersembunyi membiarkan karena Lien Po duluan lewat, ada orang bertanya pada Lau Siang Ju “Kenapa anda berbuat demikian ? Apakah takut akan jenderal ?” Lau Siang Ju berkata “Negara Chin tak berani menyerang ke negara kita, benar – benar lantaran kami berdua, kalaulah kami duluan berkelahi, dua harimau saling berkelahi, pasti akan terluka, dengan demikian bukankah akan mencelakakan negara ?” Lien Po mendengarkan perkataan ini, sangat malu sekali, lalu memikul batangan berduri, bertelanjang dada pergi ke tempat Lau Siang Ju memohon maaf, dua orang saling bertemu, akhirnya menjadi kawan baik, dan bersama – sama melindungi negara dan rakyat.
sumber; Hua sin Thang

IBU Meng dalam mendidik anaknya

孟母教子

孟子名軻,字子輿,戰國鄒人,為子思的學生。孟子從小就喪父,,
跟者母親生活,而母親也成了他第一位的啟蒙教師。孟母對兒子的教

育無微不至,其中「孟母三遷」、「斷機教子」等故事更為傳頌。
古《烈女傳》中記載:孟子於二十歲左右變成親了。有一次他因有急

事沒有敲門便匆匆忙忙跑進寢室,不料他的妻子竟蹲在房中,在當時
這是很不禮貌的行為。因此孟子十分不悅,競有意休妻。孟母問他:「媳婦有何不對的行為嗎?」孟子回答:「她在房中不端正地坐著,卻蹲在那裡。」孟母又問:「何以得知她蹲在房中?」孟子回應:「是我親眼看到的。」孟母又問:「那你進門前有先喊一聲嗎?」孟子回答:「沒有。」孟母就說了:「這就是你不懂禮了。〈禮記〉上有記載:在進入房間前,應有所表示,你難道忘了嗎?我們不可以趁人家不備時去找人家的錯處。你進房前並未喊一聲,她也許有她要做的事情,所以
當時蹲著呢!你匆忙地跑入房中,這實在是你的錯誤,並非你的妻子
不明禮啊!」(原文:「夫禮,將入門,問孰存,所以致敬也。將上

堂,聲心揚,所以戒人也。將入戶,視必下,所以恐見人過也。今汝
往燕私之處,入戶不有聲,令人袒而在內,踞而視之,是汝非禮也,非婦無禮也。」)
孟子深感自己的不是,於是與妻子和樂相處如初,也更加注意自己的

禮節,唯恐有失禮之誤。
Mengcius bernama He, alias Tze Sing, orang Chang Kuo, sebagai murid dari Tze She, Mengcius dari kecil sudah tak berayah, hidup bersama dengan ibunya, dan ibunya merupakan Guru pertama yang mendidik dia. Ibu Mengcius mendidik anaknya sampai pada hal – hal yang sangat mendetail. Banyak cerita – cerita tentang didikan beliau terhadap anaknya yang sangat terkenal.
Buku Kuno “Kisah Wanita Berjiwa Ksatria” ada mencatat “Sewaktu Mengcius berumur sekitar 20 tahun sudah menikah. Pada suatu hari lantaran keperluan yang mendadak, tanpa mengetuk pintu tergesa – gesa masuk ke dalam kamar tidurnya, tak disangka isterinya lagi jongkok di kamar, pada saat itu, jongkok merupakan suatu hal yang sangat tidak sopan. Oleh sebab itu Mengcius merasa sangat tidak senang, sampai hendak menceraikannya. Ibunya bertanya “Apakah perbuatan yang salah adalah dari isteri kamu ?” Mengcius menjawab “Dia berjongkok di dalam kamar tidur”. Ibu Mengcius bertanya lagi “Apakah kamu tahu kenapa dia berjongkok dalam kamar ?” Mengcius menjawab “Aku sendiri yang melihatnya”. Ibu Mengcius bertanya lagi “Apakah kamu ada mengetuk pintu sewaktu hendak masuk ke kamar ?”. Mengcius menjawab “Tidak”. Ibunya berkata “Kamulah yang tidak mengerti sopan santun”. Dalam kitab kesopanan ada mencatat “Sebelum masuk ke kamar, seharusnya mesti mengetuk pintu terlebih dahulu, apakah kamu telah melupakannya ? Kita tidak boleh lantaran orang lain tidak bersiap - siap lalu mencari kesalahan dari orang tersebut. Kamu sebelum masuk kamar tidak memberikan aba – aba, dia mungkin mengerjakan pekerjaan yang dia kerjakan, makanya pada saat itu dia lagi berjongkok ! Kamu tergesa – gesa masuk ke dalam kamar, sungguh – sungguh merupakan kesalahan dari kamu, bukan lantaran isteri kamu yang tidak sopan !”
Mengcius merasakan diri sendirilah yang salah, makanya berbaikan lagi dengan istrinya, hidup berdampingan dengan sangat berbahagia seperti semula, juga semakin menjaga sopan santun dari diri sendiri, takut berbuat lagi hal yang tidak sopan.


Dengan kesungguhan hati akan besar pula hikmahnya/kebijaksanaannya

心誠感應天

從前有一位十七、八歲的女子,家境雖一貧如洗,但是為了供佛,省



吃儉用的節省下兩文錢到佛寺裏佈施,住持為其真誠所感,竟親自為


她誦經祈福,懺悔往業。後來她被選進宮裏,一時富貴利達起來,驕

氣十足地帶了數千金前來寺裏佈施,但是這次的迥向法會,住持卻沒
有親自為她做法事,只是令其徒眾辦理而已。
女子對於如此做法自然不甚滿意,便來盤問師父:「上回我只不過施


捨了兩文錢,師父便親自為我在佛前懺悔迥向,現在我佈施了這麼多

銀子,師父反而不親自為我迥向,這是什麼意思?」住持長老看著女
子順機開導說:「您上回所施的錢雖然不多,但是佈施的誠心卻十分真切感人,非老納親自操辦是不足答謝:而今佈施雖多,心意已大不如前,因此有人代勞就可以了。」聽到這裹,女子才若有所悟的深深感嘆!
可見佈施功德的大小全在一顆真心的多少啊!


Dahuulu kala ada seorang gadis yang berumur sekitar 17 – 18 tahun, keadaan rumah tangganya, walaupun sangat miskin, tetapi demi untuk beramal, berhemat makan telah menyisakan 2 sen untuk beramal pada kuil Buddha, ketua kuil benar – benar terharu akan kesungguhannya, lalu demi dia membacakan paritta memohon rezeki, dan menyesali kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Kemudian dia terpilih menjadi dayang istana, sesaat jadi kaya, dengan penuh kebanggaan membawa ribuan emas beramal ke kuil tersebut, tetapi peralihan amal kali ini tidak dipimpin oleh ketua kuil, hanya menyuruh muridnya yang melaksanakannya.
Gadis itu mendapatkan perlakuan yang seperti ini sangatlah tidak senang sekali, lalu bertanya pada ketua kuil “Dulu saya hanya membawa 2 sen beramal kemari, ketua kuil langsung memimpin upacara di depan Buddha untuk pengalihan amal dan pertobatan, sekarang saya beramal begitu banyak emas, Guru malahan tidak memimpin upacara peralihan amal terhadap saya, apa pula artinya ? Ketua kuil melihat gadis itu sejenak lalu memberikan pengarahan kepadanya “Anda pada saat itu walaupun beramal tak banyak, tetapi kesungguhan hati kamu begitu menggugah hat orang, haruslah saya yang melaksanakan barulah bisa menyatakan terima kasih, dan sekarang yang anda amalkan walaupun banyak, kesungguhan hati tak seperti semula, oleh sebab itu diwakili oleh orang lain untuk melaksanakannya sudahlah bisa”. Mendengar sampai disni, gadis itu barulah sadar sedalam – dalamnya.
Dapat dilihat dengan jelas bahwa beramal jasa pahala besar kecil tergantung pada berapa banyak kesungguhan hati.
sumber; Hua sin Thang

Bertindak sesuai dengan kehendak Langit, kepercayaan yang tidak bisa dibohongi

順天而行 信實不欺

在江西信州這個地方,有一位周姓作生意人家的婦人,頗有賢德而沒


有子女。有一天他的公公要她掌管財務,並給她二個大小不同的秤,

要她買入賣出時用不一樣的秤,她聽了之後,心生難過,面色不悅,
並跟公公請辭,沒答應接受這份工作。公公問她因何請辭?她回答:「公公您的作法是大大的傷害了天理,媳婦我實在不敢順著公公您的吩咐去做,違背了天良而沒有信實,所以我只好拒絕您。」
公公一聽,頗有體悟,便說:「那現在趕緊停止,不要再這樣子。」

婦人說:「但過去所作的罪過,仍然很難贖回,請問公公您這兩個秤
用多少年?」公公說:「二十年了。」婦人說:「那現在這兩個秤要反過來用,以來償還這二十年來不該多賺的錢。」她公公聽完,深覺有道理,便答應了她,最後這位
賢婦連續生了三個兒子,都在少年時就登第做官了。
試看周家老翁因貪財欺人,天本罰之無子孫,但因賢媳有德,能順天
理,天便再賜貴子,可見為禍為福,全在人心,而周家賢婦不敢違逆

天理的真心,值得後人效法。
Di propinsi Ciang Si di kota Sin Co ada keluarga Cho yang merupakan pedagang dan mempunyai menantu yang sangat berbudi luhur dan tidak memiliki anak. Pada suatu hari ayah mertua menyuruh dia untuk mengatur keuangan, dan memberikan dia dua buah timbangan yang berbeda, menginginkan dia sewaktu membeli dan menjual memakai timbangan yang berbeda, setelah dia mendengarkannya, dalam hati begitu sedih, raut wajahnya begitu tidak senang, lalu berkata pada ayah mertuanya, tak setuju untuk menerima pekerjaan ini. Ayah mertuanya menanyakan dia kenapa? Dia menjawab ”Bapak mertua, perbuatan anda terlalu melewati aturan Langit, saya sebagai menantu tak berani untuk menuruti pesan dari ayah untuk melaksanakan perbuatan yang melanggar hukum Langit, dan tanpa ada kepercayaan, makanya lebih baik saya menolaknya.”
Ayah mertua mendengarkan penjelasannya, ada sedikit kesadaran, lalu berkata ”Sekarang cepat - cepatlah berhenti, jangan melakukannya lagi.” Menantunya berkata ”Tetapi kesalahan sebelumnya tetap saja sulit untuk mengembalikannya”. Lalu bertanya kepada ayah mertua “Telah berapa tahun anda menggunakan timbangan ini ?” Ayah mertua berkata ”20 tahun”. Menantunya menjawab ”Sekarang timbangan tersebut kita gunakan secara terbalik, untuk mengembalikan uang haram yang tidak sepantasnya kita terima selama 20 tahun.” Ayah mertua setelah selesai mendengarkannya merasakan ada benarnya juga, lalu menyanggupinya, terakhir menantu yang bijak ini berturut - turut melahirkan tiga anak laki - laki, semuanya menjadi pejabat pada usia yang masih sangat muda.
Lihatlah kakek dari keluarga Cho lantaran tamak menipu uang orang lain, Langit pada mulanya menghukum dia tak bercucu, tetapi karena menantu yang bijak dan bermoral, dapat menuruti Hakekat Kebenaran, Langit baru mengaruniakan anak padanya, bisa terlihat bahwa berbuat bencana dan rejeki, semuanya tergantung pada hati manusia. Dan keluarga Che mempunyai menantu bijak yang tak berani melanggar aturan Langit, membuat generasi penerus dapat meneladaninya.
Nara sumber; Hua sin Thang

LIU YEN SHE mempertahankan / menjaga kepercayaan, LOYALITAS, tak gentar akan hidup dan mati

守信義,生死不渝的劉廷式

宋朝有位劉廷式,尚未登第的時候,家人商量要娶同鄉的某位女子,



那時兩人尚未正式訂親,後來他科考登第之後,功名得意,一身榮貴


。而那位同鄉女子卻忽然失明,由於那女子家中本來就很貧窮,所以

更不敢提起這門婚事了。
有人勸劉廷式改娶別人,劉廷式笑著說:「我已經把心許給了她,又


怎麼可以因此而負了我的初心?」最後還是迎娶這位女子為妻,並且

生下了兩個孩子。日後,他的妻子很早就過世了,劉廷式也不再繽弦
,當時他與蘇東坡是好朋友,東坡居士問他:「今天你悲傷是由於你有愛,而愛往往是由美色而生起,現在你娶的妻子是盲者,你對她的愛又從何產生呢?」劉廷式說:「我只知道我的妻子去世了,而悲傷的哀悼她,我從來沒有想
到她失明不失明啊!」劉廷式一番詞嚴義正的話語,說得東坡居士深
深感佩,忍不住撫摸、安慰劉廷式說:「你真是位大丈夫!」而後劉


廷式所生的兩個兒子都高中科第、身榮富貴了。
 
Pada dinasti Sung ada terdapat seorang yang bernama Liu Yen She, sebelum meraih gelar sarjana, keluarganya berembuk hendak menikahkan dia dengan gadis sekampung, pada saat itu keduanya masih belum saling bertunangan, kemudian dia meraih gelar kesarjanaan, jasa, nama sangatlah dibanggakan, dan mulia. Tetapi gadis sekampungnya itu malah jadi buta, lantaran rumah tangga dari gadis tersebut sangatlah miskin, makanya tak berani menyinggung hal tersebut.
Ada orang menasihati Liu Yen She agar menikahi orang lain, Liu Yen She sambil tertawa berkata, “Saya telah menyerahkan hati saya pada dia, bagaimana boleh lantaran demikian lalu menyia – nyiakan niatan hati saya yang semula ?” Terakhir dia juga menikahi gadis tersebut menjadi isterinya dan melahirkan dua orang anak. Kemudian istrinya sangat muda sudah meninggal, Liu Yen She pun tak menikah lagi, pada saat itu dia berkawan baik dengan Su Tong Pu, Su Tong Po bertanya kepadanya : “Hari ini kamu bersedih lantaran kamu ada cinta, sering kali cinta itu muncul lantaran gadis cantik, sekarang isteri yang kamu nikahi adalah yang buta, lalu bagaimana kamu bisa mencintainya ?” Liu Yen She berkata “Saya hanya tahu isteri saya sudah meninggal, bersedih lantaran mengenang dia, saya tak pernah memikirkan apakah dia buta atau tidak !” Perkataan Liu Yen She mengandung perkataan yang sangat loyalitas, mengatakan sampai membuat Su Tong Po mengaguminya, tak tertahankan lalu menghiburnya “Kamu sungguh merupakan seorang lelaki yang terpuji”. Kemudian kedua anak dari Liu Yen She mendapatkan gelar sarjana, sangat terhormat dan kaya.

Sumber;: Hua sin Thang

Seorang tukang kayu yang tidak selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri

信實不貪的樵夫

從前有一位樵夫。有一天他到山中砍柴,剛好旁邊有個山谷,一不小


心,把斧頭掉到山谷下,因山谷很深所以無法找回。自思今日若無砍

柴拿到街上去賣:明天怎麼有錢可以買米奉養雙親呢?想到這裏,樵

夫不覺已淚流滿面,哭坐在山谷邊。不久,土地公知道孝子失落了斧

頭,便化做一位老人走到他的面前問他說:「年輕人你為什麼坐在這
邊哭泣呢?」樵夫回答:「因為剛剛砍柴時,一不小心斧頭掉下山谷中,如果今天沒辦法砍到柴去賣,明天雙親就要挨餓,想到這裏,不覺就痛哭起來了。」老人家說:「好孩子!你不要哭,我給你取斧頭來。」說完便跳到山谷中,不一會兒,拿了一把金斧頭上來,對著樵夫說:「這是你掉的斧頭嗎?」樵夫回答:「不是!老人家又跳下山谷,不一會兒,又拿了一把銀斧頭上來,又問樵夫說:「這是你掉的斧頭嗎?」樵夫回答:「不是!我掉的斧頭是鐵的。」
第三次,老人家把樵夫失落的斧頭拿上來,再問道:「這是你的嗎?
」樵夫很高興的回答說:「是!」土地公看到樵夫如此信實不貪,心

中非常高興,就對樵夫說:「我將這兩把斧頭一起迭給你,你要好好

的珍惜。」說完就不見了。樵夫知道一定是仙人助他,即刻跪地叩謝

,於是就拿了三把斧頭回去,並將此事稟報雙親,雙親也很高興,樵
夫因此也富有起來,從此不必再上山去砍柴了。後來他的一位朋友知道了這個消息,也想一夜致富,第二天一天早也到同樣的地方砍柴,故意把斧頭丟到山谷裹,然後放聲大哭。不久,土地公也再次變成老者來到他的面前,並間原因,他說:「我的斧頭掉到山谷裹。」老者說:「你不要哭,我代你去取。」即跳下山谷:不久便拿了把金斧頭上來,問他說:「這是你掉的斧頭嗎?」他心裏暗自高興,立刻回答說:「是!」土地公一聽,知道他是一個貪心的人,便斥責他說:「你胡說!你是一個不信實的人,應該失落斧頭的。」說完,隨即就不見了。
須知天網恢恢,報應不爽!你若想要貪取他人的財物,必會得不償失

的。

Dahulu ada seorang tukang kayu. Suatu hari sewaktu dia ke gunung mencari bahan bakar, kebetulan di sampingnya ada sebuah lembah gunung, dia tidak hati - hati sehingga kampaknya jatiuh ke lembah gunung yang sangat dalam, sampai tak bisa diambil lagi. Dia sendiri berpikir kalau hari ini tak sanggup membacok kayu untuk kayu bakar yang dijual, besok mana ada uang untuk membeli beras dan menghidupi kedua orang tuanya. Berpikir demikian, tukang kayu bakar ini sampai mengeluarkan air mata sampai membasahi wajah, menangis di samping lembah. Tak lama kemudian Dewa Bumi (Thu Ti Kong) tahu kampak anak berbakti ini jatuh, kemudian ia merubah menjadi kakek yang berjalan di depan dia dan bertanya: “Anak muda, kenapa kamu duduk di sini menangis !” Tukang kayu bakar itu menjawab ”Karena sewaktu membacok kayu, saya telah menjatuhkan kampak ke dalam lembah, kalau hari ini saya tak bisa mendapatkan keyu untuk dijual, besok orang tua saya akan kelaparan, saya berpikir terus sampai saya menangis”. Kakek itu berkata ”Anak baik, kamu jangan menangis, aku ambilkan kapak untukmu”. Kemudian ia meloncat ke dalam lembah, kemudian ia mengambil sebuah kapak emas dan berkata pada tukang kayu bakar itu ”Inikah kapakmu ?” Tukang kayu bakar itu menjawab ”Bukan !” Kakek itu kemudian lompat ke dalam lagi, tak lama kemudian ia mengambil sebuah kapak perak dan bertanya kepadanya “Apakah kapak ini ?” Tukang kayu bakar itu menjawab ”Bukan ! Kapak saya yang terjatuh adalah kapak yang terbuat dari besi.” Ketiga kalinya kakek itu mengambil kapak miliknya, kemudian bertanya ”Inikah yang kamu punya ?” Tukang kayu bakar itu dengan gembira berkata ”Benar !” Dewa Bumi itu melihat tukang kayu bakar itu begitu bisa di percaya dan tidak tamak, dalam hati sangat gembira dan berkata pada tukang kayu bakar ”Saya sekalian menghadiahkan dua kapak ini kepada kamu, kamu hendaklah baik - baik menghargainya.” Sehabis berkata lalu tiba - tiba menghilang. Tukang kayu bakar tahu pastilah dewa yang datang membantunya, lalu berlutut berterima kasih, dan membawa ketiga kapak tersebut, lalu melaporkan kejadian tersebut kepada orang tuanya. Kedua orang tuanya sangatlah gembira, tukang kayu bakar itu menjadi kaya, semenjak itu tak pernah lagi pergi mencari kayu bakar.
Kemudian ada sorang kawannya yang mengetahui akan berita ini, juga berpikir hendak kaya dalam satu malam saja, esoknya pagi - pagi sekali juga datang ke tempat yang sama untuk menebang kayu bakar, dengan sengaja membuang kapak ke dalam lembah, kemudian menangis dengan keras sekali. Tak lama kemudian Dewa Bumi juga berubah menjadi seorang kakek dan berjalan sampai di depannya dan bertanya apa penyebab dia menangis, dia menjawab ”Kapak saya terjatuh ke dalam lembah.” Kakek itu menjawab ”Kamu janganlah menangis lagi, saya akan membantu mengambilnya.” Lalu melompat turun; tak lama lalu mengambil kapak emas, dan berkata kepadanya ”Inikah yang kamu jatuhkan ?” Dia dalam hati begitu gembira dan berkata ”Benar !” Dewa Bumi mendengarkannya, tahu bahwa dia merupakan orang yang sangat tamak, lalu menyalahkan dia dan berkata ”Kamu sembarangan berkata ! Kamu adalah orang yang tak bisa dipercaya, seharusnya akan kehilangan kapak tersebut.” Habis berkata, lalu menghilang.
Haruslah diketahui jaring hukuman Langit sedemikian luasnya, akan mendapatkan pembalasan yang setimpal ! Kalaulah tamak menginginkan harta orang lain, pastilah tidak akan bisa memilikinya.

Sumber; Hua sin Thang

CHEN YEN FANG berceramah tentang kepercayaan



Sewaktu dinasti Han, ada seorang yang bernama Chen Ming She, orang lain menyebutnya dengan Tuan Wen Fang. Beliau paling dipercaya dikampungnya. Kalaulah ada terjadi perselisihan, seringkali mencari dia untuk memutuskannya.
Banyak orang berkata : “Lebih baik menerima hukuman, daripada mau diserahkan pada Tuan Wen Fang yang bisa mengetahui kelemahan ora

ng lain”, bisa dilihat dia begitu dihormati orang lain.
Pada suatu hati Chen Ming She berjanji dengan kawannya untuk berpergian, tetapi setelah lewat dari waktu yang dijanjikan, kawannya masih juga belum datang, Chen Ming She lalu duluan berangkat. Kemudian kawannya datang dan bertepatan dengan itu, anak dari Chen Ming She yang bernama Chen Yeng Fang berdiri di depan pintu (Chen Yen Fang pada saat itu berumur 7 tahun).
Kawannya lalu bertanya “Apakah ayah ada di rumah ?”. Yen Fang menjawab “Menunggu Tuan begitu lama sekali, makanya ayah berangkat duluan”.
Begitu mendengar jawaban tersebut, kawannya lalu emosi dan berkata “Keterlaluan, sungguh bukan manusia ! Sudah janji dengan orang lain, malah diri sendiri pergi duluan”. Yen Fang lalu menjawab “Tuan dengan ayah saya berjanji pada siang hari, tetapi telah lewat dari waktu yang dijanjikan masih saja belum datang, itu demikian tidak dapat dipercaya, dan di hadapan dari anak orang memarahi ayahnya di sebut dengan tidak sopan”.
Kawannya setelah mendengar jawaban dari Yen Fang, merasa diri sendiri bersalah, setelah meminta maaf lalu pergi dengan rasa malu.
Kebanyakan orang selalu tidak duluan mengoreksi dirinya sendiri dan duluan menyalahkan orang lain, hal itu bukan saja membuat orang lain memandang ringan terhadap dirinya, tetapi juga telah menyinggung perasaan orang lain, haruslah diketahui setiap orang yang bermoral, setiap hal hendaklah menuntut pada diri sendiri, berinstropeksi pada diri sendiri.

Kaisar TANG MING WANG tidak mau membiarkan Ayahnya lelah

.

Pada dinasti Tang, Wei Ho (permaisuri) mengacaukan pemerintahan, di dalam biskuit menaruh racun membuat kaisar Chung Cung mati diracuni, juga bersiasat membunuh semua kerabat kaisar, setelah Tang Ming Wang mendapatkan kabar dari agen rahasia, lalu membahas dengan orang kepercayaannya untuk menindak duluan, orang kepercayaannya menyara

nkan pada Tang Ming Wang agar melaporkan hal ini kepada Siang Wang (ayahanda dari Tang Ming Wang), dia berkata : ”Kita mengabdi pada negara demi kelangsungan hidup negara, kalaulah berhasil, segala jasa adalah diberikan pada Siang Wang; kalaulah gagal, lalu mengorbankan nyawa demi negara, jangan melibatkan Siang Wang. Kalaulah sekarang melapor, Siang Wang menyetujuinya, berarti telah ikut berpartisipasi dengan kejadian ini, kalaulah tidak menyetujuinya akan membuat rencana ini jadi terbongkar.” Makanya mereka tidak melaporkannya pada Siang Wang.
Pada saat tengah malam Lung Chi (nama dari Tang Ming Wang) memimpin pasukan pilihan untuk menyerbu masuk ke istana, membunuh permaisuri Wei Ho dan seluruh orang kepercayaannya, menentramkan kekacauan, pada saat itu pula Langit telah terang, Lung Chi barulah pergi menghadap pada Siang Wang bersujud mengaku bersalah tidak duluan melaporkan kejadian tersebut. Siang Wang memeluk anak kesayangannya sambil menangis dan berkata “Negara dan kuil untuk persembahan leluhur keluarga kaisar bisa diteruskan lagi, ini semua adalah merupakan jasa kamu !”
Lung Chi dapat pada saat negara mengalami bahaya, mengorbankan diri demi negara, boleh dikatakan sebagai seorang yang setia, tetapi sebelum bertindak tak berani melaporkan pada Ayahanda, karena pertama ayahnya berada di dalam istana, kalaulah terjadi di dalam istana, juga ditakutkan di dalam istana begitu banyak orang, sangat begitu membahayakan keselamatan ayahnya, yang kedua kalaulah tidak menyetujui akan hal tersebut akan membuat ayahnya jadi sulit, kalaulah bertindak maka akan menjadi anak yang tidak berbakti, membuat antara berbakti dan kesetiaan menjadi tak bisa di jaga secara bersama, lagipula kalaulah berhasil tak apa - apa tetapi kalau gagal, ayahnya juga tak bisa menolak akan keterlibatannya juga tak akan lolos dari ayahnya pada saat itu, ini merupakan pikiran yang paling tepat untuk menwujudkan kesetiaan dan berbakti secara bersamaan.

Menelantarkan badan demi mengejar LOYALITAS.



Pada akhir zaman dinasti Han, para pejabat saling berebut kekuasan, negara dalam keadan kacau balau. Pada saat itu keadaan pejabat di pemerintahan mendapat kritikan keras dari para ksatria dan orang - orang terpelajar. Pada saat pemerintahan kaisar Ling Ti, beliau memerintahkan agar menangkap orang - orang yang ikut berpolitik dan orang - orang budiman

. Di buku sejarah tercatat sebagai salah satu bencana. Fan Pang orangnya sangat berperasaan, beliau begitu membenci kejahatan, dan beliau juga ditangkap.
Sebelum beliau menjalankan hukuman, ibunya menjumpainya untuk yang terakhir kalinya dan Fan Fang berkata : “Adik sangat berbakti, dia akan bisa membiayai kehidupan Ibu, saya mengikuti langkah ayah yang telah duluan meninggal, dan hanya berharap ibu bisa merelakan perasaan Ibu terhadap kepergiaan saya, juga jangan terlalu bersedih.”
Ibu Fan Fang menjawab : “Kamu bisa seperti Li Ying, Tu Mi dan lainnya yang merupakan orang yang sangat jujur dan bersih, kamu bisa setingkat dengan mereka, meninggal pun tak ada yang bisa disesalkan. Kamu mempunyai sifat yang begitu lurus dan bersih, bagaimana bisa panjang umur ?”. Setelah mendengarkan perkataan Ibunya, Fan Fang lalu bersujud pada Ibunya dan berpamitan untuk pergi menerima hukuman demi loyalitasnya terhadap kebenaran, beliau hanya berumur 33 tahun pada saat dihukum mati.
Dalam kehidupan manusia mesti ada yang hendak dikerjakannya, merelakan nyawanya demi keloyalitasannya, selamanya akan dijunjung tinggi oleh orang lain, walaupun badan kasar sudah meninggal, tetapi semangatnya tetap hidup.
Cerita Fan Fang setelah lewat 900 tahun lamanya dapat mengugah hati Su Tong Po. Ibu Su Tong Po juga membaca cerita mengenai Fan Fang, Su Tong Po bertanya pada ibunya : “Kalaulah saya rela meneladani seperti Fan Fang, apakah ibunda mengizinkannya ?” Ibu Su Tong Po menjawab : “Jika kamu dapat seperti Fan Fang, apakah saya tidak bisa menjadi seperti ibu Fan Fang ? Benar sekali, kamu dapat menjadi pejabat yang jujur, saya akan menjadi ibu dari pajabat yang jujur, dari mana datangnya penyesalan ?”
Selanjutnya Su Tong Po dalam kehidupan berpolitiknya selalu mengalami keadaan yang kurang lancar “Bagaikan lalat yang lagi makan, hanya memuntahkannya”, dia beberapa kali di penjarakan, di turunkan pangkatnya dan di asingkan, selalu dapat memberi pengarahan dengan sifat lurusnya kepada Kaisar yang salah mengambil keputusan. Su Tong Po dengan mengikuti semangat dari Fan Fang, dan ibunya mengikuti semangat dari ibunya Fan Fang, semakin menambah keberanian dari Su Tong Po.
Setelah berselang 900 tahun lamanya, yaitu pada saat ini juga kita kembali membaca cerita mengenai Fan Fang dan Su Tong Po dan dalam hati kita begitu berharap bisa seperti mereka juga dan terhadap ibunya Fan Fang dan ibunya Su Tong Po yang begitu berjiwa ksatria semakin menambah kekaguman terhadap mereka.

LIU AN SHE tidak berbuat salah terhadap Langit & Bumi



Liu An She hidup pada masa Dinasti Sung, dia merupakan murid dari She Ma Kuang, pada suatu hari dia bertanya pada Gurunya : “Apa kiat dari Guru hingga dapat melaksanakan Kebajikan sampai seumur hidup ?”
She Ma Kuang menjawab : “Kiatnya adalah kesungguhan hati, saya terbiasa berupaya melakukan segalanya dengan penuh kesungguhan hati,

oleh sebab itu baik pada saat berdiri di antara sesama Menteri Negara, maupun dalam perbuatan sehari hari, tidak perduli terhadap Langit maupun terhadap orang lain, semuanya tidak melakukan perbuatan yang memalukan”
Liu An She bertanya lagi : “Hendak dilaksanakan, tapi mesti dimulai dari mana ?“
She Ma Kuang menjawab : “Dimulai dari tidak pernah mengatakan kata sesumbar”.
Sejak saat itu, Liu An She tehadap kesungguhan hati selalu memeluknya dengan erat dan seumur hidup melaksanakannya. Liu An She merupakan seorang pejabat penasehat Kaisar, di dalam pemerintahan begitu berwibawa, apa yang diketahuinya tidak pernah tidak dikatakannya, hal - hal yang dikatakannya tidak pernah ada henti - hentinya, seringkali membahas tentang membedakan benar dan salah. Sesat dan lurus, merupakan hal yang paling penting dalam pemerintahan, hendaklah menggunakan pejabat yang Budiman, menyingkirkan orang yang berjiwa kerdil, merupakan hal yang paling mendesak “.
Sewaktu dia lagi memberi laporan pada Kaisar, kata - katanya penuh dengan loyalitas dan tegas, setiap saat dikala Kaisar lagi emosi, dia akan mundur dari tempatnya berdiri, menunggu emosi Kaisar turun, dia baru maju lagi untuk berdebat, kadang mundur bolak balik sampai empat lima kali, segenap pejabat yang hadir pada terkejut dan bercucuran keringat, tetapi dia tetap saja tidak mau mundur, sehingga semua orang memberinya gelar “Harimau”.
Di tempat dia membahas urusan Negara di antara Kaisar dan Perdana Menterinya, dia begitu benci pada kejahatan, maka akhirnya menyinggung Sang Penguasa, dan dibuang ke tempat pengasingan. Pada hari yang sangat panas terik Liu An She pergi bersama ibunya menjalani hukuman. Sewaktu mereka sampai di atas sebuah gunung, mereka beristirahat di bawah sebatang pohon yang besar, tiba - tiba datang seekor ular besar menghampiri, rumput - rumput dan ranting kayu jatuh tertindas olehnya, para pencari kayu bakar juga kaget dan ketakutan sehingga berlarian. Tetapi Liu An She sendiri tetap saja duduk tidak bergerak, kepala ular besar itu menghadap Liu An She dan menatapnya sampai begitu lama, kemudian membalikkan badan dan pergi.
Orang - orang kampung kemudian datang mengelilingi Liu An She sambil berlutut. Liu An She lalu berkata “Sebagai seorang pejabat yang datang dari jauh, ular merupakan dewa yang ada di gunung ini, dia datang untuk memberi penyambutan, yang mana menandakan perjalanan saya ini tidak akan ada malapetaka”. Pihak penguasa begitu menbenci Liu An She, sebelum Liu An She tewas mereka tidak akan puas, sehingga mereka berusaha mencelakakan Liu An She. Oleh sebab itu Liu An She dipindah pindahkan ke sana kemari, sebentar diutus ke Kuang Tung, sebentar ke Kuang Shi, pokoknya kedua tempat yang paling berbahaya itu disuruh bolak balik, kebanyakkan orang mengira dia akan tewas dikerjai, tetapi setelah berselang selama 7 tahun, dia tidak pernah jatuh sakit satu kalipun, umurnya hampir mencapai 80 tahun tetapi dia masih sehat, sehingga ada orang bertanya : “Bagaimana anda melatih badan anda sehingga tetap sehat walafiat ?”, dan Liu An She menjawab : “Cukup memakai satu kata untuk menjelaskannya yaitu kata Kesungguhan”.
Di sepanjang kehidupan dari Liu An She, beberapa kali dia mendapat bahaya besar, tetapi berubah menjadi tidak apa - apa, sehingga ada orang berkata : “Ini bukan kemanpuan manusia biasa yang bisa melakukannya, pasti dia mendapat bantuan dari Langit”.
Liu An She sepanjang hidupnya dalam mengatasi permasalahan selalu terang benderang / terbuka, sampai - sampai Su Tong Po juga memujinya : “Liu An She benar-benar merupakan ksatria yang tidak berbuat malu pada Langit dan Bumi, bukan orang awam yang bisa melakukannya” Itulah yang dilakukan oleh Fan Pang dan Su Tong Po.

Rezeki & kegemilangan ada pada Moral.

Dahulu ada seorang yang bernama Liu She, begitu rajin belajar tetapi selalu tak lulus ujian, dalam hati sedemikian tak gembira, penuh dengan kegelisahan, terakhir memohon pada dewa agar memberikan petunujuk lewat mimpi. Pada suatu malam, dewa benar - benar memberikan mimpi, malahan menyalahi dia berkata ”Pada kehidupan kamu ini selalu menampakkan kebajikan,
tetapi tak mau melakukannya, malahan ada melakukannya perbuatan yang merusak moral, kamu mana bisa mengharapkan dapat menjadi sarjana tempo dulu”. Liu She menjawab “Diri sendiri tak pernah berbuat hal yang merusak moral”. Dewa berkata ”Adik kamu berhutang pada negara, kamu bukan saja tak membantunya, malahan membiarkan dia mati dalam penjara, bukankah ini merupakan hal yang merusak moral ?”. Liu se lalu menjelaskan akan kelakuan jelek dari adiknya. Pada saat itu pula dewa berkata lagi ”Orang biasa yang berlalu lalang saja melihat keadaan adikmu saja sudah menaruh hati yang tidak tega melihatnya, apalagi kamu sebagai saudaranya, juga bagaimana tidak memperhatikan dan menaruh iba terhadapnya, apakah kamu tidak mengetahui akan masalah Chu She yang mewakili orang membayar pajak menanam tanaman ? Dia hanya dikarenakan satu niatan yang berhati baik, tidak tega dan berbuat baik, sekarang sudah menerima pembalasan baik”. Liu She setelah terjaga dari mimpinya, hari ke dua lalu pergi mengunjungi Chu She, meminta pengarahan hal baik apa yang dilakukan sehingga mendapatkan balasan baik, Chu She berkata “Tahun ini saya pulang dari belajar di tempat yang jauh, di dalam perjalanan melihat seseorang di siksa oleh orang, saya bertanya pada pemukulnya, kenapa bisa sedemikian ?” Dia menjawab “Orang ini berhutang pada negara, pajak menanam bibit sebanyak 2500 masih belum dibayarnya.” Saya lalu mengambil uang saya yang semestinya saya kasih sebagai penghormatan terhadap guru saya, untuk mewakili dia membayarnya, tak di sangka lantaran hal yang demikian telah dicatat oleh Langit. Setelah Liu She habis mendengarkan, tak tahan diri sendiri merasakan sangat malu sekali, juga akhirnya memahami diri sendiri telah merusak moral dan itulah penyebab dia beberapa kali tak lolos ujian.
Kitab kuno berkata ”Langit tanpa mengenal apapun, hanyalah moral sebagai pendampingnya”. Rupanya Langit begitu memandang berat pada orang yang memiliki Tao dan bermoral, dan segala rezeki dan bergelimangan balasan kebajikan, juga akan didapati lantaran ada membina diri.

Sesama saudara suami atau istri saling menyayangi, namnya akan dikenang sepanjang masa


Sewaktu dinasti Tang ada dua orang bersaudara, abangnya bernama Chang Meng Jen menikahi Cheng Miau An, adiknya bernama Chang Chong Ik menikahi dengan Shi Miau Yen. Kedua orang istri mereka begitu memahami aturan tata krama, begitu mencintai keluarga, ramah tamah dan rukun antar tetangga, mendapatkan pujian dari banyak orang. 


pada waktu mereka masih belum menikah, keluarga Shi sangat kaya, keluaraga Cheng agak miskin, tetapi setelah saling menjadi ipar, dua orang istri ini tinggal bersama, saling menemani, tanpa membedakan antara kaya dengan miskin, juga tak pernah berbuat perbandingan yang tidak berarti dan yang akan membuat keretakan di antara mereka. Dua orang ini begitu akrab sekali, perasaan di antara mereka bagaikan seperti kakak beradik, sering kali berada dalam satu ruangan yang sama untuk menenun kain, saling menyayangi, rajin bekerja. Kalaulah ada orang menghadiahkan barang atau uangnya ada berlebih, mereka berdua pasti akan menyerahkannya kepada ibu mertua mereka, menunggu adanya keperluan mendadak barulah dengan penuh hormat melapor pada ibu mertua. Dua orang menantu ini, tak pernah tamak hatinya, juga tak pernah secara diam - diam menyimpan uang untuk diri mereka, ketulusan dan kesungguhan hati mereka yang begitu berbakti, secara alamiah akan mendapatkan rasa hormat dari seluruh anggota keluarga.
Terkadang Miau An ada masalah pulang ke rumah orang tuanya, Miau Yen secara otomatis akan membantu Miau An menyusui anaknya, sama halnya dengan Miau Yen bila ada urusan pulang ke rumahnya, Miau An juga akan membantu menyusui anaknya. Di antara dua orang ini, begitu akrab sekali. Air susu juga sering berbagi, perasaan yang sedemikian tebalnya telah melebihi keakraban seperti saudara sekandung, malahan mereka bisa saling menyelami hati masing - masing, telah melupakan akan bentuk badan diri sendiri. Sewaktu menyusui, tak perlu bertanya anak siapa yang dinyusui ? Anak kecil saja bagaikan tak jelas membedakan yang mana merupakan ibu kandungnya. Pada suatu kali kucing rumah mereka dicuri oleh orang lain, anak - anak kucing tak ada induk yang menyusui, tak disangka anjing yang ada di rumah secara otomatis datang menyusui anak - anak kucing, di waktu sekeluarga melihat pemandangan yang mengharukan di antara kucing dan anjing, tak tahan berkata : “Ini lantaran kerukunan di antara Miau An dengan Miau Yen yang telah menggugahnya !” Kemudian pihak kerajaan barulah mengetahui akan nama harum mereka berdua yang merupakan menantu yang berbakti, lalu menggantungkan papan kebanggaan di atas rumah mereka dengan tulisan (“二難El Nan” = Dua Kelangkaan) yang menandakan moral dan persahabatan mereka begitu langka terjadi dan begitu agungnya. Sekalian memesan pada orang dunia untuk meneladani panutan mereka yang sedemikian mulianya di antara sesama saudara ipar.
Di dunia ini yang paling sulit adalah di antara sesama manusia dapat dengan kesungguhan di dalam menghadapi orang lain, tanpa ada sedikit pun rasa egois yang terkandung di dalamnya, tidak membedakan kamu dan saya, begitu akrab tanpa ada batasan, dan Miau An dengan Miau Yen sebagai saudara ipar malahan dapat melaksanakannya dengan secara alamiah, transparan tanpa memalukan, sungguh sangat langka terjadi dalam dunia ini, moral yang indah ini begitu mengharukan orang.
sumber; Hua sin Thang

Adik yang teguh dan kuat moralnya telah mengharukan kakaknya, kakak adik kembali berkumpul


Pada zaman dahulu, ada seorang yang bernama Chau Yen Siau dan kakaknya yang bernama Chau Yen Yin, bersama - sama hidup selama 20 tahun. Kakaknya suka berfoya - foya, tak mau bekerja, Yen Siau sering kali menasihati tetapi tanpa membawa hasil, akhirnya meminta untuk membagi harta dan pisah rumah.

Setelah lewat 5 tahun , harta kakaknya sudah ludes, dan masih terbelit banyak utang.
Pada malam menjelang tahun baru bersiap - siap untuk melarikan diri, Yen Siau mempersiapkan makanan dan arak dengan kesungguhan hati mengundang abang dan kakak iparnya untuk bersama - sama mengantar makanan yang telah disediakan. Sewaktu telah makan separuh, Yen Siau berkata “Saya pada dasarnya tak bermaksud untuk membagi harta, tetapi karena abang terlalu boros dan tidak tahu berhemat, ditakutkan seluruh harta akan ludes semuanya. Sekarang untung saja masih ada terdapat separuh harta warisan, adiknya dengan penuh kesungguhan hati mempersilahkan kakak dan kakak iparnya untuk kembali tinggal bersama, malahan berkuasa untuk memutuskan segala persoalan yang ada di dalam rumah”, setelah habis berkata, pada saat itu pula membakar surat perjanjian yang dahulu telah mereka sepakati bersama. Bersamaan pula menyerahkan kunci gudang untuk disimpan oleh kakak dan kakak iparnya, yang paling jarang dijumpai adalah dia masih mengambil tabungan pribadinya untuk melunasi segala hutang kakaknya.
Kesungguhan hati dan ketulusan hati dari Yen Siau, memiliki ketebalan moral yang tanpa sedikit pun perhitungan, membuat kakak dan kakak iparnya merasakan sangat malu dan juga berterima kasih. semenjak dari itu abangnya begitu rajin untuk menata dan mengendalikan usaha keluarga, berhemat dan tak berfoya - foya, setiap hal bertindak dengan hati - hati dan tegas, begitu bersungguh - sungguh dalam mengelola keuangan. Pada tahun itu juga, Yen Siau dan anaknya bersama - sama lolos dari ujian dan menjadi sarjana tempo dulu, terlihat dengan jelas orang yang bermoral indah akan dibalas oleh Langit.

CHEN SHE EN Menasehati Saudaranya



Pada dinasti Ming, terdapat seorang yang bernama Chen She En, dia adalah orang dari Sia Yi juga merupakan seorang sarjana zaman dulu. Dia mempunyai 3 saudara, abangnya bernama Siau Lien, kemudian adalah dia, mereka berdua merupakan orang budiman yang mempelajari Tao, hanya adiknya yang sering - sering bermain - main dan bersenang - senang di t

empat pelacuran, sampai pada tengah malam barulah pulang, Siau Lien sering kali menasehati dan mnemperingati dia, tetapi tak ada gunanya sama sekali, She En berkata pada abangnya “Abang demikian terhadap adik, hanya akan merusak hubungan antar saudara yang telah terjalin dengan baik, padahal sesungguhnya tidak ada gunanya sama sekali, biarkan saya memikirkan suatu cara untuk menasehatinya !” Oleh sebab itu setiap malam adalah langsung She En yang menjaga pintu dan membukakan pintu untuknya, untuk menunggu kepulangan adiknya. Setiap kali adiknya pulang, dia pasti setiap saat membukakan pintu untuk adiknya, malahan dengan ramah bertanya pada adiknya “Apakah kamu kedinginan di luaran ? Laparkah kamu ? Kalaulah adiknya dingin, lapar, dia turun tangan langsung untuk menyiapkan baju dan makanan untuk adiknya, tutur katanya juga penuh dengan ramah tamah, juga tak pernah bertanya padanya apa yang dia lakukan di luaran. Dengan demikian keadaan tersebut berlangsung tak tahu berapa lama, adiknya pelan - pelan menyesali dan bersadar. Pada suatu malam sewaktu adiknya seperti biasa masuk ke dalam rumah, She En masih saja begitu perhatian terhadapnya, adiknya akhirnya tak tahan lagi dan memeluk abangnya sambil berkata “Abang ! Dahulu saya berbuat salah, kelak saya tak mau lagi berkeluyuran di luar rumah lagi, saya sungguh bersalah pada abang.” Semenjak dari itu, benar saja dia telah merubah dirinya, jalinan perasaan antar saudara semakin saling mengasihi dan semakin akrab.
Hendaklah diketahui perasaan saudara adalah yang paling sukar untuk didapati, kalaulah kita dapat baik - baik menghadapi setiap famili yang ada di samping kita dan segala orang yang berjodoh, lama kelamaan, pastilah dapat mengharukan mereka.

Perasaan menyayangi kakaknya yang demikian mendalam, tidak sayang jenggotnya terbakar



Li Ci merupakan orang pada dinasti Tang, seumur hidup sangat berjasa pada dinasti, pernah membantu Tang Tai Cung (kaisar pertama pada dinasti Tang) untuk menentramkan negara, dan diberi gelar sebagai “Ing Kuo Kung”. Pada waktu Li Ci pertama kali menjabat jabatan pemerintahan, kakaknya sakit, sangat sulit untuk

bisa menelan, Li Ci walaupun tugasnya sangat sibuk sekali, umurnya juga sangat tua, tetapi dia begitu dalam sekali rasa sayangnya terhadap kakaknya, dalam hati sama sekali tidak tega, lalu diri sendiri yang langsung masuk ke dapur untuk memasakkan bubur yang sangat lembek sekali, agar kakaknya dapat menelannya. Pada suatu kali dia baru mau menghidupkan api hendak memasak, berhembus angin sehingga menyebabkan apinya jadi besar, dengan segera terbakar jenggotnya, pada saat itu dia walaupun dengan segera memadamkannya, tetapi jenggotnya sudah banyak yang terbakar. Pada saat itu, kakaknya yang lagi terbaring sakit di ranjang melihat keadaan tersebut, berkata dengan rasa yang sangat menyayangi : di rumah begitu banyak pelayan, kamu ada urusan tinggal menyuruh mereka saja, kenapa hendak bersusah payah dan begitu membuat capek diri sendiri. Sekarang jenggot kamu telah terbakar, membuat saya begitu sangat sedih sekali”. Li Ci segera menjawab “Tak mengapa, walaupun saya dapat menyuruh pelayan untuk memasaknya, tetapi setiap kali saya berpkir umur kakak sudah demikian tua, saya masih ada berniat untuk sering memasak bubur buat kakak, secara langsung melayani anda, tetapi keadaan tak menentu, di dalam kehidupan manusia ada banyak kesempatan yang sulit didapati seperti keadaan seperti ini”. Kakaknya mendengarkannya, secara mendalam telah terharu oleh perasaan sejati yang ditimbulkan oleh Li Ci.
Li Ci yang demikian tidak dikarenakan kemewahan lalu luntur perasaannya, Perasaan terhadap kakaknya yang sedemikian murni, benar - benar merupakan cerita yang sedemikian indahnya

Manusia tidak lebih baik dari pohon


Sewaktu zaman dinasti Nan Pei, di sekitar Chan An ada terdapat sebuah keluarga yang bermarga Thien, tiga bersaudara saling sayang meyayangi, hidup rukun dan gembira yang tiada terkirakan.
Kemudian ayahnya meninggal, tiga menantunya berlainan pendapat, bermaksud akan membagi harta, setelah memutuskan, mereka membagi semua harta secara merata sebanyak 3 bagian,

tetapi cuma hanya sebatang pohon yang ada di depan rumah yang tak dapat dibagikan. Terakhir semua orang membahasnya dan memutuskan pada suatu hari akan membagi pohon tersebut menjadi 3 bagian, tak disangka sampai hari itu, pohon itu tiba - tiba mati kering, sampai - sampai ranting dan pohon juga bagaikan seperti habis terbakar, menunjukkan kering terbakar tanpa adanya tanda tanda kehidupan. Tiga bersaudara ini melihat kejadian tersebut sangat kaget sekali, kejadian ini akhirnya menyadarkan abang tertua Thien Chen, dan berkata kepada 2 orang adiknya ”Pohon pada dasarnya adalah hidup melalui akar yang sama, mendengarkan kita akan membaginya menjadi 3 bagian, langsung berubah menjadi hangus terbakar. Dilihat dari kejadian tersebut, kita abang adik bertiga yang saling menyayang dan saling bersungguh – sungguh, malahan tak sebanding dengan pohon tersebut”. Tiga orang bersaudara merasakan teramat malu sekali dan memutuskan untuk tidak akan lagi untuk menebang pohon tersebut. Anehnya, pohon tersebut mendengar perkataan mereka, bagaikan ada perasaannya, daun dan ranting kembali rimbun lagi, juga tidak seperti hangus terbakar lagi, tiga bersaudara Thien melihat keadaan ini semakin terharu, lalu tidak mau membagi harta lagi dan hidup secara berdampingan. Kemudian Thien Chen menjadi pejabat sampai menjabat suatu kedudukan yang sangat tinggi, membuat keluarganya bangga.
Kemudian kejadian disebarkan dengan munculnya sebuah syair, yang mana menceritakan kejadian tersebut, akan menasehati orang agar mengerti untuk menghargai perasaan yang terjalin di antara abang adik, selamanya saling membantu, saling bergembira.

Mematahkan anak panah dalam mendidik Anak



Kekompakkan merupakan suatu kekuatan, tak peduli kelompok manapun semuanya adalah sangat memerlukannya
Di negara Tiongkok bagian barat, ada terdapat sebuah negeri yang disebut dengan Tu Ku Hui, rajanya bernama A Chai, sudah berusia lanjut, melahirkan sebanyak 20 anak. Sewaktu dia lagi sakit, dia mengumpulkan semua anak di sekelilingnya, dan memerintahkan

pada mereka masing – masing mengeluarkan sebuah anak panah, sebanyak 20 batang. Dan mengambil salah satunya dan memberikan pada anak bungsunya yang bernama Mu Li Yen dan menyuruh dia mematahkannya. Prek ! Lalu patah, kaisar menganggukan kepala, selanjutnya menyuruh anak bungsunya untuk mematahkan anak panah sebanyak 19 batang sekaligus, Mu Li Yen mengeluarkan seluruh kekuatan yang ada padanya, sampai sekujur tubuhnya bermandikan keringat, tetap saja tak sanggup untuk mematahkannya, terakhirnya dia meminta maaf, dan menyatakan bahwa dia tidak sanggup untuk mematahkannya. Kaisar memberitahukan kepada seluruh anaknya “Kalian semua telah melihat, satu batang anak panah sangatlah mudah untuk dipatahkan, hanya dengan kekompakan barulah tidak dapat dijatuhkan, kalian sesama saudara juga adalah sama, seharusnya saling bekerja sama, saling bahu membahu satu sama lainnya, kemudian barulah dapat melindungi negara, agar penduduk bisa hidup dengan sentosa.
Perlukah diketahui bahwa kemampuan seseorang sangatlah terbatas, kalaulah dapat membangkitkan kekuatan dan kearifan dari banyak orang, barulah dapat membahagiakan semakin banyak orang lagi.

Menantu "WEN' Berbakti & penuh kesungguhan telah mengharukan Langit


Ada seorang yang bernama Yi Sin beristrikan seorang wanita yang bermarga Wen, melayani mertuanya dengan penuh bakti, sewaktu dia masih muda, suaminya telah meninggal, ada orang menasehati dia untuk nikah lagi, tetapi dia bersikeras tetap menjanda, bersumpah untuk tidak mau menikah lagi, malahan memutuskan rambut

panjangnya, untuk menunjukkan keteguhan hatinya. Malahan ibu mertuanya dari semenjak lama telah terbaring saja di ranjang lantaran sakit, ditambah lagi kedua matanya yang buta, semakin menambah kesulitan dalam melayaninya. Tetapi menantu Wen ini begitu tulus dan penuh perasaan, rasa baktinya mengharukan orang lain, dia setiap hari bukan saja tidak pernah mengenal lelah, membantu membersihkan kotoran seperti buang air besar dan air kecil dari mertuanya, membersihkan badannya, malahan sering mencuci bersih mulutnya, lalu masuk kekamar membersihkan mata ibu mertuanya dengan lidahnya, tidak disangka lantaran kesungguhan hati, setiap hari dengan sepenuh hati menjilat, malahan telah mengharukan Langit, membuat mata ibu mertuanya kembali bisa melihat lagi / setelah orang kampung mengetahuinya, tak ada yang tidak terharu, semuanya berkata ”Hendak menjadi seorang menantu yang berbakti, haruslah bertanya pada istri Yi Sin yang bermarga Wen”.
Ada orang berkata ”Kebanyakan orang paling takut akan miskin dan penyakit, malahan Wen ini merupakan seorang perempuan yang miskin, hanya sepenuh hati berharap penyakit mertuanya bisa sembuh, malahan tak pernah mengkhawatirkan diri sendiri, menerima berapa banyak kesulitan dan kecapekkan tanpa ada rezeki yang bisa dinikmati, hanyalah sebersit kesungguhan, sungguh sangat langka sekali, apalagi orang biasa, sangat sulit melaksanakannya” perkataan ini sungguh ada benarnya.
Kemudian perbuatan perempuan Wen yang menjanda dan mempertahankan perbuatan luhur yang mengoptimalkan bakti terhadap ibu mertuanya, sampai tersebar ke kerajaan, raja menurunkan perintah untuk memberikan penghargaan kepadanya, dan memberikan kebanggaan terhadap keluarganya
Dari sini dapat terlihat bahwa “Thien Tao itu tanpa mengenal perasaan, sering melindungi orang yang berbuat kebajikan

Anak bisu yang Berbakti



Di propinsi Yin Nan pada kota Kun Ming terdapat seorang anak bisu yang berbakti, dia sangat berbakti sekali. Keluarganya sangat miskin, dia mempunyai seorang ibu yang sudah tua renta, tak perduli perut lapar atau badan kedinginan, dalam hati anak bisu yang berbakti ini bisa mengetahuinya, tak menunggu ibunya memberitahukannya, dia telah tahu semuanya lantaran sedemikian mi

skin tak ada makanan yang bisa dimakannya. Anak bisu berbakti ini pergi mengemis sisa makanan dari orang lain untuk dikasih makan ibunya, asalkan sudah mendapatkannya, dia pasti membawa pulang ke rumah dan menaruhnya di depan ibunya, menunggu setelah ibunya duluan makan, diri sendiri barulah makan, ibu kalaulah tidak memakannya, dia juga tidak pernah sudi untuk memakannya. Terkadang menghadapi saat sewaktu ibunya lagi marah, dia akan menunjukkannya mimik wajah yang bisa membuat orang lain jadi tertawa, menari - nari di hadapan ibunya, sampai membuat ibunya tertawa barulah berhenti.
Ibu dia tak ada mempunyai anak yang lainnya, hanya memiliki seorang anak bisu, pada mulanya dia begitu sedih karena anak tunggalnya yang bisu, tetapi lama kelamaan, anak bisu yang begitu berbakti sekali, membuatnya jadi sangat terhibur, malahan merasakan anak bisu yang berbakti ini jauh lebih baik dibandingkan dengan anak lainnya.
Pada suatu kali, ada seorang yang lagi memakan buah semangka, melihat anak bisu yang berbakti ini lewat, lalu memberikan separuh semangka kepadanya, anak bisu ini menganggukkan kepala tanda terima kasih, lalu membawanya pulang ke rumah, orang yang memakan semangka ini pernah mendengarkan cerita orang, setiap kali asalkan anak bisu berbakti ini mendapatkan makanan, pasti duluan memberikannya kepada ibunya untuk di makan, makanya dia jadi merasa ingin tahu dan mengikuti di belakangnya, berpikir hendak membuktikannya, kemudian benar - benar demikian halnya, dia benar - benar memuji bahwa anak bisu yang berbakti ini benar - benar berbuat sesuai dengan apa yang diceritakan oleh orang lain mengenai bakti dari anak tersebut.

Kemudian ibu dari anak bisu berbakti ini meninggal, tetangga dikampungnya sedang berdiskusi hendak menyumbangkan uang untuk memakamkan ibunya. Melihat anak bisu itu tergesa - gesa menarik baju dari orang kampung, dan membawa mereka sampai ke samping sebuah sumur, dengan jari telunjuk menunjuk pada sumur itu beberapa kali, pada mulanya mereka tak tahu akan maksudnya, lalu mengambil tali untuk turun ke dalamnya untuk melihatnya, rupanya di bawah sumur ada terdapat begitu banyak uang, cukup untuk membeli baju dan peti mati, dan segala biaya pemakamam yang diperlukannya semuanya telah tercukupi. Semua orang saling memandangi, begitu kaget sekali, juga tak tahu dari mana datangnya uang tersebut. Ada orang berkata ”Anak berbakti ini setiap hari mengemis makanan pulang, pasti melempar uang logam ke dalam sumur, menimbun begitu lama, makanya ada sedemikian banyak uang”
Anak bisu berbakti ini setelah mengurus pemakamam ibunya, lalu pergi jauh, di jalan Kun MIng tak pernah lagi terlihat akan bayangannya.


Anak durhaka akan dihukum Langit




Pada saat dinasti Man Ching, ada terdapat seorang yang bernama Yang Pu dan adiknya yang bernama Yang Fu, bersama - sama melayani kehidupan ibunya, hidup bersama - sama, mereka masing - masing juga ada memiliki istri dan anak. Adiknya lebih kaya, tetapi sangat pelit sekali, Yang Pu sangat miskin tetapi sangat berbakti.
Pada suatu hari ter

jadi kebanjiran, adiknya tak mempedulikan ibunya dan abangnya, duluan menggunakan perahu untuk membawa anak dan istrinya pergi ke tempat yang lebih tinggi agar bisa terbebas dari bencana banjir. Yang Pu tak berdaya sama sekali, dengan tergesa - gesa bergegas menggendong ibunya sambil mendaki gunung. Tak lama kemudian ke empat penjuru digenangi oleh air bah, menenggelamkaan begitu banyak penduduk, Yang Pu lagi bersedih, karena tak sempat untuk melindungi anak istrinya, tak tahu apakah tertimpa bencana alam atau tidak. Tak disangka selagi khawatir, tiba - tiba terlihat seorang nyonya yang menggendong anaknya dengan menaiki ke atas sebarang pohon yang besar, mengikuti aliran air, sewaktu pokok pohon yang besar terapung nendekati gunung, Yang Pu dengan sekuat tenaga menolong mereka, dan melihatnya, rupanya benar -benar merupakan anak istrinya, pada saaat itu dia merasakan kebahagiaan yang sangat besar sekali, bersyukur atas perlindungan dari Langit.
Hari kedua banjir telah surut, dia bergegas untuk melihat keadaan adik dan adik iparnya dan keponakannya, siapa sangka perahu yang membawa seluruh keluarga adiknya, sewaktu mendekati gunung, tak beruntung perahu tertimpa oleh sebatang pokok pohon yang longsor, perahu bersama penumpangnya tenggelam dan segenap anggota keluarga tertimpa bencana.
Setelah diketahui oleh Yang Pu, dia begitu sedih sekali, tetapi dia juga mengerti, orang yang tidak berbakti Langit pasti sulit untuk melindunginya. Secara diam - diam Langit ada mengamati segalanya dan sangatlah sulit untuk lolos dari jaring hukuman Langit.

Berbakti akan dilindungi oleh Malaikat dari Langit



Pada waktu dinasti Man Ching pada pemerintahan kaisar Sun Che (sekitar akhir dari abad ke-18), di sebelah Timur dari kota Chin Ling ada terdapat seorang yang bernama Ku Cheng, menikahi seorang wanita yang bermarga Chien, ia sangatlah berbakti, pada saat itu sekitar bulan 3, di kecamatan mereka tersebar semacam wabah penyakit yang san

gat parah sekali, malahan saling menularkan, begitu banyak penduduk yang terjangkit penyakit ini. Melihat satu keluarga begitu banyak nyawa melayang, juga ada satu gang yang meninggal, begitu banyak hanya tinggal beberapa orang saja. Pada saat itu wabah penyakit menular ini begitu parah sekali keadaannya, begitu membuat semua orang jadi ketakutan, malahan sampai - sampai famili dari orang yang terjangkit tak berani datang untuk menjumpainya, pada saat itu Ku Cheng juga terkena penyakit tersebut, seluruh anggota keluarga dari dewasa sampai anak-anak ada sebanyak 8 orang yang terkena, semuanya terbaring di ranjang, napasnya kembang kempis, terbaring di atas ranjang. Pada saat itu bertepatan pula istri Ku Cheng pulang ke rumah orang tuanya, sewaktu dia mendengarkan mertua dan suaminya semuanya terkena wabah penyakit menular, dan kabarnya sangat parah, dalam hati begitu gelisah, lalu segera pulang untuk menjenguk mereka. Pada saat itu orang tuanya yang sayang pada anaknya dan tidak rela untuk membiarkan putrinya pergi, lalu mencegahnya, tak membiarkan dia kembali ke rumah suaminya.
Siapa sangka anaknya begitu teguh pendiriannya dalam berbakti, berlutut pada orang tuanya memohon pada mereka dan berkata “Sebagai suami lantaran hendak menikahi istrinya, kebanyakan adalah berharap agar istrinya dapat berbakti pada orang tuanya, malahan mati hidup merupakan suatu hal yang besar dalam kehidupan ini, hari ini mertua sakit sedemikian parah, saya sebagai menantu mereka, bagaimana bisa tega untuk tidak pulang ? Pada keadaan sekarang ini. kalaulah saya masih tak berniat untuk pulang membantu mertua, membantu rumah tangga saya, lalu apa bedanya saya dengan binatang ? Makanya hari ini saya pasti akan pulang ke rumah mertua, walaupun tak beruntung terjangkit penyakit tersebut dan meninggal, saya juga tidak berani berharap akan merepotkan ayah dan ibu agar kalian datang untuk menjaga saya”. Setelah habis berkata, dia tak berani lagi untuk melihat tanggapan orang tuanya, kekhawatiran mereka, kesedihan mereka, hanya dengan bertekad bulat segera berangkat sendirian dengan bergegas pulang ke rumah.
Sewaktu dia hampir sampai di rumah, Ku Cheng terbaring di ranjang melihat siluman penyebar wabah saling berkata, “Begitu banyak malaikat Langit sepanjang jalan melindungi seorang yang bermarga Chien yang sangat berbakti untuk pulang, kita kalaulah tidak segera pergi, pasti akan bisa mendapatkan hukuman yang tidak sedikit dari Langit, dengan demikian dalam sekejap mata saja, siluman penyebar wabah penyakit segera menghilang dan segenap anggota keluarga Ku Cheng yang berjumlah sebanyak 8 orang semuanya jadi sembuh kembali. Ini semuanya lantaran rasa bakti dari marga Chien yang telah mengharukan Dewa/Shenming  , dan kewelas asihan Langit yang begitu penuh dengan cinta kasih, yang dimana - mana akan selalu melindungi dan menyelamatkan orang yang penuh dengan kebajikan.